Malamang, Tradisi Kuliner Unik Minangkabau

Sejak dahulu hingga sekarang, di Minangkabau antara alam, adat, dan syarak (agama) mempunyai hubungan harmonis. Alam merupakan guru, sumber ilmu pengetahuan, dan juga sumber inspirasi bagi masyarakat Minangkabau sesuai dengan falsafah “alam takambang jadi guru”. Adat merupakan bentuk atau perilaku masyarakat Minangkabau yang berasal dari pembelajaran dan pengetahuan yang didapat dari alam sesuai dengan syarak dalam falsafah Minangkabau, “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah”. Keharmonisan antara alam, adat, syarak, di Minangkabau dapat ditemukan dalam berbagai tradisi masyarakatnya.

Salah satu tradisi tersebut adalah malamang atau membuat lamang. Lamang merupakan makanan yang terbuat dari beras ketan dan santan yang dipanggang dalam sebatang bambu, dimana lubang dalam bambu tersebut dilapisi atau dikelilingi dengan daun pisang muda.

Munculnya tradisi malamang ini tidak dapat dilepaskan dengan muncul dan berkembangnya Islam di Minangkabau sekitar tiga ratus tahun yang lalu. Saat itu ulama terkenal Syekh Burhanuddin datang ke daerah pesisir Minangkabau untuk menyiarkan agama Islam. Syiar agama yang dilakukan oleh beliau terutama bertempat di Ulakan, Pariaman.

Menurut tambo, Syekh Burhanuddin rajin berkunjung ke rumah-rumah penduduk untuk bersilaturrahmi dan menyiarkan agama Islam. Oleh masyarakat, beliau disuguhi makanan-makanan saat bertamu tersebut.

Namun Syekh Burhanuddin agaknya meragukan kehalalan makanan yang dihidangkan. Akhirnya beliau memberi saran kepada setiap masyarakat yang dikunjunginya agar mencari bambu, mengalasnya dengan daun pisang muda, memasukkan beras ketan dan santan ke dalamnya, kemudian dipanggang diatas tungku, dengan bahan bakar dari kayu. Sampai saat ini, kisah inilah yang dipercaya oleh masyarakat Minangkabau sebagai asal-usul tradisi malamang.

Hingga kini, meski zaman telah berubah dan ilmu pengetahuan terus berkembang, lamang tetaplah makanan yang terbuat dari adonan beras ketan dan santan yang dimasukkan dalam tabung bambu dimana lubang dalam bambu tersebut sebelumnya telah dialasi oleh daun pisang dan kemudian dipanggang diatas api dengan kayu sebagai bahan bakar.

Tradisi malamang selanjutnya terus berkembang hingga ke seluruh daerah Minangkabau. Orang Minangkabau yang terkenal dengan tradisi merantau dan berdagang ikut membantu menyebarluaskan tradisi malamang, sehingga lamang juga dikenal di daerah-daerah lain di Indonesia hingga sampai ke luar negeri. Bahkan Kota Tebing Tinggi di Sumatera Utara dijuluki sebagai Kota Lamang. Masakan lamang di daerah ini dibawa oleh perantau Minang. Hal ini berarti dengan lamang orang Minang telah memperkenalkan budaya makanan, dan persahabatan.

Tidak Hanya Sekedar Tradisi
Di Minangkabau, malamang merupakan tradisi yang sering dilaksanakan tatkala ada acara penting seperti Maulid Nabi, pengangkatan penghulu, lebaran, pernikahan, dan acara besar lainnya, terutama hari besar Islam. Lamang biasanya disajikan atau dihidangkan untuk disantap dengan tapai sipuluik, yang juga terbuat dari beras ketan hitam atau beras ketan merah, tetapi yang banyak digunakan adalah beras ketan hitam. Dimusim durian, lamang juga banyak dihidangkan untuk dimakan bersama buah durian.

Di Pariaman yang menjadi daerah asal lamang, membuat lamang atau malamang tidak hanya sekedar tradisi. Lebih dari itu, malamang sudah seperti sebuah keharusan bagi masyarakat terutama dalam memperingati Maulid Nabi atau hari kelahiran Nabi Muhammad Saw. Tanpa malamang, masyarakat akan merasakan sesuatu yang kurang saat peringatan Maulid Nabi.

Walikota Padang, Bapak Drs. H. Fauzi Bahar saat ditemui wartawan pada Lomba Malamang tingkat Kota Padang tahun 2007 berkata, “Malamang itu oleh masyarakat tidak hanya sekedar tradisi yang dijalankan untuk acara tertentu seperti Maulid Nabi saja. Lebih dari itu, malamang sudah seperti keharusan bagi masyarakat. Malamang adalah simbol bahwa masyarakat sedang merayakan Maulid Nabi. Tanpa malamang pasti ada sesuatu yang kurang”.

Bagi masyarakat, baik kaya ataupun miskin, malamang adalah keharusan. Walaupun keadaan ekonomi saat ini semakin sulit, malamang pada saat Maulid Nabi adalah suatu keharusan. Segala cara diupayakan mulai dari memecah tabungan, berhutang, atau meminta bantuan kepada saudara agar dapat membuat lamang.

Biaya untuk membuat lamang tidaklah sedikit. Biasanya setiap keluarga akan membuat hingga 50 batang lamang, bahkan ada yang lebih dari 100 batang. Untuk membuat 50 batang lamang, kira-kira dibutuhkan 150 liter beras ketan dan 100 butir kelapa. Seandainya 1 liter beras ketan harganya Rp 8.000,00 dan harga satu butir kelapa Rp 1.000,00, maka setidaknya dibutuhkan dana Rp 1.300.000,00.

Meskipun dana sebesar itu dikeluarkan oleh masyarakat, namun kebahagiaan dan kepuasan hati menikmati lamang buatan sendiri disaat Maulid Nabi sudah cukup untuk membayar semua biaya diatas dan kepenatan saat membuat lamang. Inilah bukti akan kuatnya hubungan adat dan agama bagi masyarakat Minangkabau.

Kebersamaan
Untuk malamang, tidak bisa dilakukan seorang diri. Malamang membutuhkan beberapa orang untuk membuatnya. Misalnya saja, untuk malamang diperlukan orang untuk mencari bambu sebagai tempat adonan, mencari kayu bakar guna memanggang lamang, mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat lamang seperti beras ketan, santan, dan juga daun pisang, serta orang yang mempersiapkan adonan dan memasukkan adonan lamang kedalam bambu.

Untuk satu orang saja, tentu malamang merupakan pekerjaan yang sangat berat bahkan tidak mungkin. Oleh karena itu dalam malamang, dibutuhkan beberapa orang yang mampu saling bekerja sama dari awal hingga akhir pembuatan lamang. Dengan adanya saling kerjasama diantara sekelompok orang dalam malamang, maka malamang akan terasa mudah dan menyenangkan.

Disinilah letak kelebihan dalam tradisi malamang. Malamang dapat memupuk rasa kerjasama dan kebersamaan sesama anggota masyarakat di Minangkabau.

Pertahankan Tradisi Malamang
Hingga saat ini tradisi malamang “Indak lakang dek paneh, indak lapuak dek hujan”. Malamang masih terus dipertahankan, dan harus tetap dipertahankan sampai kapanpun, meski zaman semakin maju dan berkembang.

Tradisi malamang tetap perlu dipertahankan dan dilestarikan sebagai bagian dari budaya Minangkabau. Malamang merupakan tradisi khas Minangkabau sebagai makanan yang kaya akan gizi dan sarat dengan nilai moral. Apabila dimasa depan tradisi malamang ini tidak dilestarikan dan dipertahankan, bukan tidak mungkin tradisi ini tinggal nama dan sejarah saja.

Adanya terobosan dari Pemerintah Kota (Pemko) Padang yang bekerjasama dengan Harian Pagi Padang Ekspres baru-baru ini dalam mengadakan Lomba Malamang tingkat Kota Padang tahun 2007 patut diacungi jempol. Selain dapat dijadikan sebagai ajang pariwisata, dengan adanya lomba malamang seperti ini berarti telah turut memperkenalkan dan melestarikan tradisi malamang di kalangan masyarakat.

Perlu juga diupayakan agar lamang dipatenkan sebagai masakan khas Minangkabau, agar generasi dimasa yang akan datang dapat mengenal lamang sebagai penganan khas Minangkabau yang bergizi tinggi dan penuh dengan pesan-pesan moral dalam proses pembuatan dan penyajiannya.

Mengingat lamang juga sudah menglobal keluar Sumatera Barat hingga ke mancanegara, pematenan lamang sebagai makanan khas Minangkabau perlu dilakukan agar nasibnya tidak seperti rendang dan masakan khas Minang lainnya, yang kabarnya telah dipatenkan di negeri orang. Semoga tradisi malamang ini dapat terus dilestarikan dan dipertahankan oleh masyarakat Minangkabau.

Iklan
Comments
2 Responses to “Malamang, Tradisi Kuliner Unik Minangkabau”
  1. Yunaidi Joepoet berkata:

    Hingga sekarang tradisi malamang masih bertahan. Kalau salah satu daerah di Pariaman ada tradisi “Maanta Sambareh” dulu sewaktu masih tinggal di Pariaman saya sering sekali mengikuti prosesinya.
    Btw, tulisannya bagus sekali. Salam kenal sesama generasi Minangkabau.

    Yunaidi Joepoet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: