Catatan dari Homestay di Jepang

Hubungan baik antar dua bangsa tidak cukup hanya melalui jalinan kerjasama antar pemerintah, namun juga dapat dilakukan melalui interaksi sosial antar masyarakatnya. Salah satu bentuk interaksi tersebut melalui kegiatan homestay.

Hal inilah yang dilakukan pemerintah Jepang beberapa tahun belakangan ini dalam rangka meningkatkan hubungan baik antara warga negara matahari terbit tersebut dengan warga dari negara lainnya. Mereka mengundang sejumlah warga dan pelajar asing untuk melakukan interaksi sosial dengan masyarakat Jepang, salah satunya melalui kegiatan homestay dan tinggal dengan keluarga lokal.

Pada bulan Juli 2009 lalu, saya mendapatkan kesempatan untuk melakukan homestay sebagai bagian dari program pertukaran pelajar Indonesia-Jepang, Program Jenesys 2009. Program ini disponsori oleh pemerintah Jepang agar pelajar dari Indonesia dapat mengenal lebih dekat mengenai Jepang, termasuk melalui kegiatan interaksi budaya dan sosial. Bersama saya, sejumlah pelajar Indonesia lainnya juga mengikuti kegiatan homestay yang hanya dijadwalkan selama satu hari penuh di prefektur Yamagata, Jepang.

Saya diperkenalkan kepada keluarga Kinoshita yang akan menjadi host-family nantinyai pada pertemuan sebelum melakukan kegiatan homestay. Pertama kali bertemu, tampak bagaimana kehangatan mereka dalam menyambut saya sebagai pelajar yang datang dari Indonesia. Begitu pula tampaknya dengan pelajar Indonesia lainnya yang disambut dengan begitu hangat oleh host-family mereka.

Dengan terbata-bata, Toyoko Kinoshita, ibu dari host-family tempat saya akan melakukan homestay menyapa saya dalam Bahasa Indonesia. “Saramato Siang. Senang sekali bertemu dengan Anda. Apakah Anda Cesar-kun?” katanya dengan tersenyum dengan sedikit membungkuk sebagai salam penghormatan ala Jepang. Sayapun tersenyum dan juga membungkukkan badan sebagai salam. Toyoko-san yang didampingi suaminya, Akira-san kemudian mengajak saya meninggalkan ruang pertemuan dan mengajak ke rumahnya menggunakan mobil mereka.

Rumah keluarga Kinoshita secara umum sama dengan rumah masyarakat Jepang lainnya yang sederhana, tidak begitu besar, berdiri satuan, bertingkat dua, dan setiap keluarga sekurang-kurangnya memiliki dua mobil yang diparkir di garasi. Kemudian, Toyoko-san yang menyeduhkan teh Jepang dan sakuranbo (buah ceri) mempersilahkan saya beristirahat sejenak. Sambil beristirahat, saya kemudian mencoba berbicara untuk mengenal lebih jauh mengenai keluarga tersebut.

Akira Kinoshita (58), kepala keluarga Kinoshita merupakan seorang pensiunan eksekutif sebuah perusahaan elektronik Amerika Serikat. Akira-san yang fasih berbahasa Inggris ini mengambil pensiun dini karena ingin bebas dari pekerjaan dan fokus pada keluarga. Kemudian istrinya Toyoko Kinoshita (57). Sedangkan dua anak mereka semuanya telah bekerja dan merantau di tempat lain di Jepang. Adapun mengenai pengalaman menjadi host-family, mereka baru pertama kali menerima warga asing utnuk melakukan homestay di rumah mereka. “Putri saya yang bekerja di JICE menawarkan untuk menerima pelajar Indonesia melakukan homestay. Karena itu, saya dan Toyoko memutuskan untuk menerima tawaran tersebut,” katanya.

Keluarga Kinoshita sendiri cukup familiar dengan Indonesia. Akira-san mengatakan bahwa ia pernah ditempatkan di Malaysia sekitar tahun 1980-an dan pernah mengunjungi Indonesia sekali. “Kami pernah datang ke Jakarta untuk berlibur sekitar awal tahun 90-an. Waktu itu kami ke Pulau Seribu,” kata Toyoko-san sekaligus memperlihatkan foto keluarganya yang sedang berlibur. Mereka juga bertanya mengenai keadaan Indonesia saat ini, Presiden Soeharto, peristiwa tsunami Aceh, dan beberapa hal mengenai asal daerah saya. “Bagaimana dengan Presiden Soeharto? Apakah masih menjabat?,” tanya Akira-san pada saya. Saya pun menjawab bahwa Presiden Soeharto telah meninggal setahun yang lalu.

Kemudian saat saya mengatakan akan melaksanakan ibadah shalat, Toyoko-san tampak memperlakukan saya secara berlebihan. “Apakah ada yang perlu saya bantu atau saya sediakan? Apakah fusuma ini perlu saya tutup dan lampu ruangan dimatikan?” kata Toyoko-san. Ia juga tak lupa mematikan televisi yang terletak di ruang tengah agar tidak mengganggu saya dan membantu membersihkan ruangan tempat saya beristirahat tersebut.

Adat istiadat Jepang adalah tidak akan membiarkan tamu untuk bangun sendiri atau dibangunkan oleh tuan rumah. Sebelum tidur, saya ditanya oleh Akira-san pukul berapa akan bangun pagi nantinya. Dengan demikian, mereka dapat membangunkan saya sesuai dengan waktu yang diminta.

Pagi harinya, mereka mengajak saya untuk mengajak anjing mereka, Thong jalan-jalan sekaligus melakukan senam pagi yang rutin dilakukan oleh masyarakat sekitar di lapangan terdekat dan memperlihatkan kepada saya lingkungan perumahan di Jepang. Pada pagi tersebut, saya melihat bagaimana hubungan antar masyarakat di Jepang yang berlangsung harmonis. Setiap Akira-san ataupun Toyoko-san bertemu dengan kenalan mereka, mereka tak lupa bertegur sapa satu sama lainnya, menanyakan keadaan masing-masing. Selain itu Toyoko-san tak segan mengenalkan saya kepada warga sekitar yang juga sedang jalan-jalan pagi.

Kemudian saat makan pagi, saya mengerti bagaimana keluarga di Jepang berusaha menjaga hubungan setiap anggota keluarga. Saat makan, mereka selalu duduk bersama-sama di meja makan tanpa satu orang anggota keluargapun yang tidak hadir. Sambil makan bersama, mereka kadang mendiskusikan berbagai hal, termasuk masalah anggota keluarga sehingga hubungan setiap anggota keluarga dapat terjaga.

Pelajaran lain yang saya dapatkan saat berada di antara keluarga Jepang adalah bagaimana mereka memperlakukan waktu dengan disiplin. Sempat saya meminta Akira-san dan Toyoko-san untuk mengantarkan saya mencari souvenir khas Yamagata sehari setelah saya selesai mengikuti kegiatan Homestay. Akira-san terlebih dahulu melihat jadwal kegiatan hariannya yang telah terjadwal di handphone miliknya. Setelah mengatur waktu yang cocok, akihirnya Akira-san bersedia mengantar saya pada pukul 08.15. Tapi pada waktu yang ditentukan, Akira-san menjemput saya pada pukul 08.00, lebih cepat dari waktu yang ditentukan.

Setelah saya berpisah dari mereka, walaupun saya hanya menginap satu hari di rumah mereka, saya dapat merasakan bagaimana masyarakat Jepang menghormati tamu mereka sekaligus menjalin hubungan baik dengan orang yang mereka kenal meskipun sesaat. Sebelum saya kembali ke Tokyo menggunakan kereta Shinkansen, di Stasiun Sentral Yamagata saya terkejut saat tiba-tiba Akira-san dan Toyoko-san datang untuk melepas saya. Akira-san datang mengenakan pakaian batik yang dibelinya saat datang ke Indonesia dan Toyoko-san mengenakan kimono. Padahal sebelumnya mereka tidak mengatakan akan melepas saya di stasiun. Dan dua minggu setelah kepulangan saya ke Indonesia, saya kembali terkejut dan merasa malu melihat sebuah kartu pos dari mereka datang ke rumah saya untuk menanyakan kabar saya, meskipun awalnya saya yang berjanji untuk terlebih dahulu menulis surat kepada mereka setelah tiba di Indonesia nantinya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: