Samurai yang Jera Berperang

Kekalahan Jepang pada Perang Dunia II enam puluh empat tahun yang lalu telah menimbulkan dampak yang luar biasa. Bagi Jepang, tidak hanya beban materil yang harus ditanggung, tetapi juga beban moril yang masih melekat di hati masyarakat Jepang hingga saat ini.

Saya sempat terkejut ketika bulan lalu, saat saya berkesempatan untuk mengunjungi ke Jepang selama seminggu, tiga kali saya mendapat titipan permohonan maaf dari beberapa orang di sana atas nama masyarakat Jepang kepada masyarakat Indonesia yang pernah dijajah selama tiga setengah tahun saat Perang Dunia II. Mereka masing-masing adalah seorang pengajar di Tokyo, seorang petugas museum di Yamagata, dan beberapa pelajar dari kelas sejarah sebuah sekolah menengah umum di Yamagata. Selain meminta maaf, pelajar dari Yamagata juga menanyakan bagaimana perlakuan tentara Jepang kepada masyarakat Indonesia selama masa penjajahan tersebut.

Padahal awalnya saya mengira, waktu enam puluh empat tahun sudah cukup bagi masyarakat Jepang untuk melupakan sejarah kelam tersebut. Beban materil yang ditanggung oleh bangsa Jepang seperti kota-kota yang hancur dan juga kompensasi perang semua telah mampu dilunasi oleh mereka. Jepang bahkan telah melakukan perombakan total terhadap sistem pemerintahan dan ekonomi menjadi lebih liberal seperti yang disyaratkan oleh sekutu yang dipimpin oleh Amerika Serikat sebagai pemenang perang saat itu. Namun ternyata, beban materil yang telah lama dilunasi oleh bangsa Jepang tidak mampu menghapuskan beban moril yang masih ditanggung saat ini.

Profesor Yashashi Murai, seorang pakar dan peneliti kebudayaan dan hubungan masyarakat Jepang–juga orang yang termasuk minta maaf kepada masyarakat Indonesia–saat memberikan kuliah mengenal Jepang di hadapan pelajar Indonesia peserta program Asean-Jenesys 2009 pada bulan Juli lalu mengatakan bahwa kekalahan Jepang pada Perang Dunia II telah membuat Jepang harus menanggung beban materil dan juga beban moril hingga saat ini.

Beban moril tersebut antara lain rasa bersalah masyarakat Jepang karena telah menciptakan perang dan melakukan perang pada saat tersebut. Selain itu, imej buruk sebagai sebuah bangsa penjajah masih cukup melekat di benak mereka. Pada akhirnya, rasa bersalah tersebut berujung kepada ketakutan masyarakat Jepang untuk kembali menghadapi perang.

“Setelah perang berakhir, Jepang yang kalah perang terpuruk menjadi negara miskin. Kota-kota hancur dan kami harus memulai dari awal lagi. Amerika Serikat kemudian menjajah Jepang selama lebih kurang sepuluh tahun dan berbagai tatanan dalam kehidupan masyarakat kembali diatur menjadikan Jepang menjadi lebih liberal. Namun lebih dari itu, masyarakat Jepang menjadi sangat takut apabila harus menghadapi perang kembali. Kami sangat menyesali apa yang telah kami lakukan di waktu lampau tersebut,” papar Profesor Murai.

Saat ini pemerintah Jepang juga tengah melaksanakan itikad untuk meningkatkan perdamaian di kawasan Asia dan menghindari terjadinya perang melalui berbagai bentuk kerja sama dan juga upaya preventif mencegah konflik antar negara.

“Untuk itu, mari kita dukung terwujudnya perdamaian Asia dan mempererat hubungan baik kedua bangsa demi menghindari terjadinya kembali Perang,” kata Profesor Murai.

***

Di sisi lain, ketakutan masyarakat Jepang terhadap munculnya kembali bibit-bibit peperangan, terutama dari generasi muda Jepang sendiri yang mungkin berniat melakukan balas dendam berwujud pada pengaburan mengenai sejarah Jepang sepanjang Perang Dunia II, terutama bagaimana kemajuan dan semangat bangsa Jepang sebelum Perang Dunia II hingga memutuskan melaksanakan perang. Selain itu bagaimana kekejaman tentara Jepang sendiri pada saat menjajah di sejumlah negara-negara di Asia juga tidk begitu diketahui secara umum oleh masyarakat Jepang. Pelajaran sejarah di Jepang saat ini umumnya lebih menitikberatkan pada sejarah Jepang klasik yang mempelajari sejarah Jepang jauh sebelum Jepang mengikuti Perang Dunia dan bahkan jauh sebelum restorasi Meiji pada abad ke-19 terjadi. Masyarakat Jepang umumnya hanya tahu sebatas Jepang mengalami kekalahan perang pada Perang Dunia II dan harus mengalami penderitaan yang begitu hebat.

Tidak heran, begitu pelajar SMA dari Yamagata menitipkan permintaan maaf kepada masyarakat Indonesia, mereka juga penasaran terhadap tindakan tentara Jepang pada Perang Dunia II. Mereka mengaku selama ini hanya mendapatkan sedikit sekali informasi dari buku pelajaran bagaimana tentara Jepang dalam menjajah sejumlah negara-negara Asia dahului, apalagi untuk mengetahui bagaimana penderitaan bangsa Indonesia selama dijajah oleh Jepang selama tiga setengah tahun.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: