Republic of Cesar

Alkohol Cegah Penyakit Otak

Posted in Sains by cesarzc on September 8, 2009

Orang yang berumur di atas 60 tahun yang mengkonsumsi alkohol dalam jumlah menengah akan mengurangi resiko terkena penyakit alzheimer dan penyakit dementia lainnya, menurut penelitian yang dilakukan baru-baru ini. Analisis yang muncul pada bulan Juli di The American Journal of Geriatric Psychiatry ini muncul dari hasil pendalaman terhadap 15 studi yang semuanya meneliti lebih dari 28000 subjek selama lebih kurang dua tahun seperti yang dilansir The New York Times. Semua studi tersebut memperhitungkan umur, jenis kelamin, kebiasaan merokok, dan faktor lainnya.
Penelitian tersebut juga mendefinisikan pengonsumsi alkohol dalam jumlah menengah yaitu sekitar 1 hingga 28 kali minum dalam satu minggu. Dibandingkan mereka yang tidak minum alkohol, peminum laki-laki akan mengurangi resiko dementia bagi diri mereka 45 persen dan bagi peminum perempuan 27 persen.
Para peneliti mengakui bahwa penelitian efek alkohol terhadap dementia dipengaruhi oleh hal-hal seperti tipe minuman, ukuran standar, dan sikap individual peminum terhadap alkohol yang pempengaruhi ketajaman mental. Tetapi ada tambahan fakta dari studi lainnya bahwa konsumsi alkohol dalam jumlah menengah bisa meningkatkan HDL atau “kolesterol baik”, meningkatkan aliran darah ke otak dan mengurangi koagulasi darah. Ketiga faktor tersebut bisa mengurangi resiko terkena dementia.
“Tetapi keamanan dalam penggunaan alkohol dalam kehidupan selanjutnya butuh dievaluasi lagi dalam hubungannya dengan fakta-fakta yang telah ada–mengenai dampaknya terhadap kesehatan,” tulis peneliti tersebut dalam jurnal.

Pelajar Jepang Tidak Tahu Penjajahan Jepang Atas Indonesia

Posted in Opini by cesarzc on September 1, 2009

DSCN1266Disebabkan karena ketakutan masyarakat Jepang terhadap munculnya kembali bibit-bibit peperangan, terutama dari generasi muda Jepang sendiri yang mungkin berniat melakukan balas dendam berwujud pada pengaburan menengai sejarah Jepang sepanjang Perang Dunia II, terutama bagaimana kemajuan dan semangat bangsa Jepang sebelum Perang Dunia II hingga memutuskan melaksanakan perang. Selain itu bagaimana kekejaman tentara Jepang sendiri pada saat menjajah di sejumlah negara-negara di Asia juga tidk begitu diketahui secara umum oleh masyarakat Jepang. Pelajaran sejarah di Jepang saat ini umumnya lebih menitikberatkan pada sejarah Jepang klasik yang mempelajari sejarah Jepang jauh sebelum Jepang mengikuti Perang Dunia dan bahkan jauh sebelum restorasi Meiji pada abad ke-19 terjadi. Masyarakat Jepang umumnya hanya tahu sebatas Jepang mengalami kekalahan perang pada Perang Dunia II dan harus mengalami penderitaan yang begitu hebat.
Tidak heran, pada saat saya berkunjung ke Yamagata Gakuin, sebuah SMA di kota Yamagata, beberapa pelajar tersebut menitipkan permintaan maaf kepada masyarakat Indonesia setelah mendengar adanya penjajahan bangsa Jepang atas bangsa Indonesia. Mereka juga penasaran terhadap tindakan tentara Jepang pada Perang Dunia II. Mereka mengaku selama ini hanya mendapatkan sedikit sekali informasi dari buku pelajaran bagaimana tentara Jepang dalam menjajah sejumlah negara-negara Asia dahului, apalagi untuk mengetahui bagaimana penderitaan bangsa Indonesia selama dijajah oleh Jepang selama tiga setengah tahun.

Bangsa Jepang Takut dan Trauma Akan Perang

Posted in Opini, pendidikan by cesarzc on September 1, 2009

Kekalahan Jepang pada Perang Dunia II enam puluh empat tahun yang lalu telah menimbulkan dampak yang luar biasa. Bagi Jepang, tidak hanya beban materil yang harus ditanggung, tetapi juga beban moril yang masih melekat di hati masyarakat Jepang hingga saat ini.
Saya sempat terkejut ketika bulan lalu, saat saya berkesempatan untuk mengunjungi ke Jepang selama seminggu, tiga kali saya mendapat titipan permohonan maaf dari beberapa orang di sana atas nama masyarakat Jepang kepada masyarakat Indonesia yang pernah dijajah selama tiga setengah tahun saat Perang Dunia II. Mereka masing-masing adalah seorang pengajar di Tokyo, seorang petugas museum di Yamagata, dan beberapa pelajar dari kelas sejarah sebuah sekolah menengah umum di Yamagata. Selain meminta maaf, pelajar dari Yamagata juga menanyakan bagaimana perlakuan tentara Jepang kepada masyarakat Indonesia selama masa penjajahan tersebut.
Padahal awalnya saya mengira, waktu enam puluh empat tahun sudah cukup bagi masyarakat Jepang untuk melupakan sejarah kelam tersebut. Beban materil yang ditanggung oleh bangsa Jepang seperti kota-kota yang hancur dan juga kompensasi perang semua telah mampu dilunasi oleh mereka. Jepang bahkan telah melakukan perombakan total terhadap sistem pemerintahan dan ekonomi menjadi lebih liberal seperti yang disyaratkan oleh sekutu yang dipimpin oleh Amerika Serikat sebagai pemenang perang saat itu. Namun ternyata, beban materil yang telah lama dilunasi oleh bangsa Jepang tidak mampu menghapuskan beban moril yang masih ditanggung saat ini.
Profesor Yashashi Murai, seorang pakar dan peneliti kebudayaan dan hubungan masyarakat Jepang–juga orang yang termasuk minta maaf kepada masyarakat Indonesia–saat memberikan kuliah mengenal Jepang di hadapan pelajar Indonesia peserta program Asean-Jenesys 2009 pada bulan Juli lalu mengatakan bahwa kekalahan Jepang pada Perang Dunia II telah membuat Jepang harus menanggung beban materil dan juga beban moril hingga saat ini.
Beban moril tersebut antara lain rasa bersalah masyarakat Jepang karena telah menciptakan perang dan melakukan perang pada saat tersebut. Selain itu, imej buruk sebagai sebuah bangsa penjajah masih cukup melekat di benak mereka. Pada akhirnya, rasa bersalah tersebut berujung kepada ketakutan masyarakat Jepang untuk kembali menghadapi perang.
“Setelah perang berakhir, Jepang yang kalah perang terpuruk menjadi negara miskin. Kota-kota hancur dan kami harus memulai dari awal lagi. Amerika Serikat kemudian menjajah Jepang selama lebih kurang sepuluh tahun dan berbagai tatanan dalam kehidupan masyarakat kembali diatur menjadikan Jepang menjadi lebih liberal. Namun lebih dari itu, masyarakat Jepang menjadi sangat takut apabila harus menghadapi perang kembali. Kami sangat menyesali apa yang telah kami lakukan di waktu lampau tersebut,” papar Profesor Murai.
Saat ini pemerintah Jepang juga tengah melaksanakan itikad untuk meningkatkan perdamaian di kawasan Asia dan menghindari terjadinya perang melalui berbagai bentuk kerja sama dan juga upaya preventif mencegah konflik antar negara.
“Untuk itu, mari kita dukung terwujudnya perdamaian Asia dan mempererat hubungan baik kedua bangsa demi menghindari terjadinya kembali Perang,” kata Profesor Murai.

NASA Temukan Faktor Terbesar Pendukung Evolusi Makhluk HidupNASA Temukan Faktor Terbesar Pendukung Evolusi Makhluk Hidup

Posted in Sains by cesarzc on September 1, 2009

Manusia mungkin tidak akan hadir di muka Bumi pada hari ini tanpa adanya fusi dua hewan mikroskopis, organisme uniselular yang disebut prokariota, demikian temuan NASA.
Dengan membandingkan protein yang terdapat pada lebih dari 3000 prokariota–sejenis organisme sel tanpa nukleus–yang berbeda, peneliti James A. Lake dari University of California Los Angeles menunjukkan bahwa dua kelas mikroba yang relatif simpel berfusi bersama lebih dari 2.5 milyar tahun yang lalu. Penelitian Lake menunjukkan adanya sebuah jalur baru bagi evolusi kehidupan di Bumi. Penelitian ini dipublikasikan pada 20 Agustus lalu melalui jurnal lingkungan online seperti yang dilansir NASA pada situsnya.
Proses endosimbiosis atau penggabungan dua sel ini memungkinkan evolusi yang sangat stabil dan sukses bagi organisme dengan kemampuan untuk menggunakan energi dari cahaya matahari melalui fotosintesis. Evolusi lebih jauh akan membuat organisme tersebut menghasilkan oksigen sebagai biproduk fotosintesis. Hasil dari oksiden yang kemudian beredar di atmosfir Bumi kemudian berdampak jauh pada evolusi kehipan, membawa lebih banyak organisme kompleks yang mengkonsumsi oksigen, yang mana nantinya menghasilkan makhluk yang bernafas melalui oksigen dengan manusia salah satu contohnya.
“Kehidupan seperti ini mungkin tidak akan pernah terjadi tanpa adanya peristiwa ini,” kata Lake. “Prokariota adalah organisme paling penting. Pada saat dua prokariota tersebut berevolusi, tidak ada oksigen di atmosfir Bumi. Tentu manusia tidak dapat hidup. Tidak satupun makhluk penghirup oksigen dapat hidup saat ini.”
Penggabungan dua organisme ini secara struktural dan mekanik menciptakan kelas baru bagi prokariota yang disebut prokariota dua membran. Ketika mereka berevolusi, anggota dari kelas dua membran ini, yang disebut cyanobakteria menjadi penghasil oksigen primer di Bumi, merubah komposisi kimia pada atmosfir Bumi dan memulai langkah baru bagi evolusi organisme yang lebih kompleks seperti hewan dan tumbuhan.

Empat Juta Warga Amerika Terkena Radiasi Dosis Tinggi

Posted in Sains by cesarzc on September 1, 2009

Tidak kurang dari empat juta warga Amerika berumur di bawah 65 tahun terkena radiasi dosis tinggi setiap tahunnya berdasarkan hasil gambaran tes kesehatan, demikian studi terbaru yang dilakukan Jurnal Kesehatan New England seperti yang dilansir situs The New York Times. Dari 400.000 pasien tersebut menerima radiasi dosis tinggi lebih dari ambang batas radiasi yang diizinkan bagi para pekerja di pembangkit listrik tenaga nuklir ataupun orang lainnya yang bekerja pada material radioaktif. Paper yang dipublikasikan pada Kamis lalu ini berdasarkan survei antara 2005 hingga 2007 dengan mengambil sampel pasien dari UnitedHealthcare. Hal ini tidak memastikan jumlah kemungkinan kasus kanker yang terjadi akibat radiasi di beberapa dekade ke depan. Tetapi Dr. Rita Redberg, kardiologis dan peneliti dari University of California, San Francisco yang banyak memperdalam hasil gambaran tes kesehatan masyarakat mengatakan bahwa ada kemungkinan sepuluh perseribu pasien terkena kanker. Dr. Redberg juga mengatakan bahwa setiap individu pasien relatif kecil untuk terkena kanker berdasarkan tes, namun karena yang terkena adalah banyak orang, resiko adanya pasien yang terkena kanker bertambah. “Dapat dipastikan bahwa ada peningkatan kasus kanker pada radiasi level rendah, dan jika level radiasi itu ditingkatkan, tentu juga akan kenambah kemungkinan terjadinya kanker,” kata Dr. Redberg. Para peneliti juga menghitung jumlah radiasi yang diterima pasien dengan melihat kode kaminan dari beberapa jenis gambaran tes kesehatan. Rata-rata orang Amerika menerima sekitar tiga milisievert (satuan terhadap radiasi yang diterima tersebut) setiap tahun dari berbagai macam sumber. Namun satu diantara tiga tahun waktu dilakukannya penelitian tersebut, sebanyak 1,9 persen pasien UnitedHealthcare menerima radiasi lebih dari 20 millisievert atau tujuh kali dari rata-rata. Dari 1,9 persen pasien tersebut juga, 10 persennya atau 0,2 persen dari keseluruhan pasien UnitedHealthcare menerima radiasi lebih dari 50 millisievert, atau lebih dari ambang batas maksimum regulasi nuklir yang diizinkan.