Juli 6, 2008 pada 3:54 pm (Sains, pendidikan)
Ternyata 0.99 meski dibulatkan atau tidak dibulatkan memang sama dengan satu (0.99=1). Tulisan ini saya dapatkan di sebuah forum, dan karena cukup unik maka saya posting di blog ini. Lihat sendiri kenyataannya melalui pembuktian dibawah ini:
0.33 = 1/3.
3 dikali 1/3 = 3/3.
3/3 = 1.
0.33 dikali 3 = 0.99.
3/3 = 0.99.
0.99 = 1.
Nah lho…? Bingung atau mengerti? Apa komentar anda?
3 Comments
Juli 1, 2008 pada 5:09 pm (Sains, pendidikan)

Inilah gambar Bumi 250 Milyar tahun kemudian berdasarkan teori Pangea Ultima. Bumi kembali menyatukan daratan-daratannya yang telah terpisah-pisah saat ini. Dapat kita lihat pada gambar, Benua Amerika, Afrika, Eropa, dan Asia menjadi satu daratan. Sedangkan Australia dan Antartika menjadi satu daratan lainnya yang terpisah. Samudra Pasifik meluas dan Samudra Hindia menjadi sebuah danau besar yang dikelilingi bekas daratan Amerika Selatan, Afrika, Asia Selatan, dan Asia Tenggara. Samudra Atlantik dan sejumlah lautan di sekitar Eropa hilang, termasuk laut Tengah, dan laut Merah. Jepang, Madagaskar, dan Inggris menyatu ke daratan ini. Sungguh luar biasa bukan!? Yang nggak bisa dibayangkan, daratan Indonesia bertemu dengan ujung daratan Amerika Selatan. Apa komentar anda?
4 Comments
Juni 9, 2008 pada 3:12 pm (Hiburan, Opini, Umum, pendidikan)

Saya terpaksa harus gigit jari lagi, pertandingan Euro 2008 sebagian besar dilaksanakan pada saat Ujian Semester atau Ujian Kenikan Kelas bagi siswa SMA dan SMP dilaksanakan. Padahal saya sudah bersemangat menyambut Euro 2008 mendukung Perancis, meski saya bukan bola mania.
Euro 2008 kali ini dilangsungkan dari tanggal 7 hingga 29 Juni 2008. Sementara itu, ujian semester bagi siswa SMA dimulai pada tanggal 11 Juni 2008 hingga 18 Juni 2008 dan bagi siswa SMP dimulai dari 16 Juni 2008 hingga 19 Juni 2008. Itu berarti sekitar 22 pertandingan tidak bisa saya lihat karena saya butuh konsentrasi untuk belajar. Lagipula hampir semua pertandingan diselenggarakan tengah malam. Tega amat UEFA dan stasiun TV-nya!
Kejadian seperti ini sebenarnya juga saya dan siswa lain alami pada saat Piala Dunia 2006 di Jerman yang lalu. Lagi-lagi jadwal pertandingan Piala Dunia 2006 bertepatan dengan jadwal Ujian Semester anak SMA dan SMP. Alhasil, banyak yang tidak konsentrasi terhadap ujiannya.
Untuk itu saya menghimbau kepada UEFA sebagai penyelenggara Euro 2008, dan FIFA sebagai penyelenggara Piala Dunia, kalau bisa (tapi impossible rasanya) agar memundurkan jadwal Euro dan Piala Dunia ini pada bulan Juli atau Agustus. Dan pada pemegang lisensi untuk siaran acara semacam ini, agar jangan menayangkannya tengah malam. Tengah malam itu waktu buat istirahat, bukan buat nonton bola harusnya.
Pada kawan-kawan SMA dan SMP, selamat ujian semester atau ujian kenaikan kelas. Jangan memaksakan diri menonton pertandingan Euro 2008 kalau tidak sanggup dan mengganggu jadwal belajar buat ujian. Selamat menempuh ujian!
5 Comments
Mei 31, 2008 pada 4:16 pm (Opini, pendidikan)
Saat ini begitu banyak mata pelajaran yang harus dipelajari siswa SMA dan SMP di sekolah. Kira-kira dalam seminggu ada lebih dari 12 mata pelajaran yang harus dipelajari siswa diantaranya Agama, B.Indonesia, B.Inggris, PKn, Fisika, Biologi, Kimia, Sejarah, Geografi, Sosiologi, Ekonomi, Matematika, Kesenian, dan Teknologi Informasi (TI). Apalagi jika ditambah dengan pelajaran muatan lokal dan praktek seperti Olahraga, KTM, BAM, Bahasa Mancanegara lainnya (Jepang, Jerman, Arab, Perancis) yang semakin memberatkan siswa. Dengan demikian, siswa terpaksa harus melahap lebih dari 16 buku dalam seminggu, mengorbankan waktu istirahat lebih kurang dua jam, ditambah tugas yang menumpuk dari guru.
Lebih parah lagi, siswa harus pula mengikuti pelajaran tambahan atau les dan semacamnya agar dapat berkompetisi pada era persaingan yang sangat ketat saat ini. Tak heran siswa Indonesia dapat dikatakan sebagai siswa paling “rajin” dan paling banyak belajar padahal hasilnya entah seperti apa. Jika dihitung-hitung, beban jam pelajaran anak SD hingga SMA di Indonesia ternyata lebih dari 1.000 jam per tahun. Angka ini terlama di dunia. Padahal, jumlah jam sekolah di negara-negara Asia-Pasifik (yang bukan termasuk negara maju) hanya 900-960 jam per tahun. Tak heran bila tiba-tiba pelajaran sekolah dihentikan karena guru rapat atau sebagainya, siswa justru bersorak gembira.
Padahal kurikulum 2006 (KTSP) telah mengisyaratkan adanya pengefesiensian pembelajaran di sekolah. Jam pelajaran dikurangi. BSNP telah menetapkan jam pelajaran di tingkat SD per tahun, paling lama 700 jam, SMP sekitar 900 jam, sedangkan di SMA/MA, sekitar 1.000 jam.
Namun sayang, pengurangan jam belajar di sekolah tak diikuti dengan pengurangan mata pelajaran. Justru mata pelajaran yang banyak tersebut dipadat-padatkan waktunya sehingga malah menambah bebas siswa. Padahal banyak mata pelajaran yang dianggap mirip-mirip sehingga dapat digabung atau dikurangi. Pelajaran Agama dan PKn misalnya, dapat digabung menjadi pelajaran agama saja sebab pada umumnya tujuannya satu, menjadikan siswa yang beriman dan bermoral. Pelajaran IPS (Sosiologi, Geografi, Ekonomi, Sejarah) kalau perlu digabungkan saja kembali menjadi satu pelajaran seperti halnya di Sekolah Dasar. Kalau melihat negara maju, pelajaran IPS dan semacamnya bahkan materinya lebih sedikit dengan ditiadakannya pelajaran seografi dan sejarah. Lalu mata pelajaran yang bersifat tambahan seperti KTM, BAM, Bahasa Mancanegara lainnya (Jepang, Jerman, Arab, Perancis) kalau dapat dikurangi sesedikit mungkin jam pelajarannya.
Siswa juga manusia. Siswa bukanlah mesin yang sepanjang hari hanya menuntut ilmu. Hendaknya hal ini dapat diperhatikan kalangan pendidik dan pemerintah agar beban siswa tidak begitu berat.
3 Comments
April 22, 2008 pada 3:55 pm (pendidikan)
Sebuah blog memuat judul artikel yang menarik perhatian saya. Artikel itu berjudul “Cara Cepat Matematika untuk Menghitung UN, SPMB (UMPTN, SNM PTN), dan Pilkada”. Dalam artikel yang ditulis 15 April 2008 yang lalu ini, penulisnya memberikan sebuah cara mengagumkan untuk menghitung kualitas pendidikan di Indonesia yang lazim digunakan pada Pilkada. Metode itu tidak lain adalah metode quick count (perhitungan cepat) yang dalam istilah matematika (statistik) metode ini sering dikenal sebagai metode sampling – berbeda dengan sensus.
Penulisnya juga memaparkan kelebihan quick count tersebut yang tidak kalah dibandingkan metode penghitungan manual/satu persatu sebenarnya. Quick count membutuhkan waktu yang singkat untuk melakukan penghitungan dengan akurasi yang tidak kalah tepat dibandingkan penghitungan manual. Quick count juga tidak memakan biaya yang besar untuk melakukannya. Dengan menggunakan metode quick count ini, hasil suatu Pilkada bisa ditentukan dalam waktu beberapa jam saja dengan tingkat akurasi yang tinggi.
Pemikiran ini menurut saya termasuk pemikiran baru dan unik yang patut kita perhitungkan sementara pemerintah dan pelajar terus berdebat mengenai pelaksanaan Ujian Nasional. Selama ini, pelaksanaan Ujian Nasional penuh kontroversi. Hanya untuk menentukan kualitas lulusan siswa Indonesia dan menentukan nilai akhir, pemerintah harus mengeluarkan dana milyaran rupiah. Selain itu semua siswa harus mempertaruhkan nasibnya selama ia belajar di jenjang sekolah tersebut hanya pada beberapa hari di Ujian Nasional. Sungguh kejam dan tragis nasib pelajar di Indonesia.
Padahal dengan menggunakan metode quick count, secara cepat dan tepat kita dapat mengetahui kualitas lulusan pendidikan di Indonesia. Dengan metode ini, tidak harus semua siswa mengikuti Ujian Nasional. Cukup beberapa siswa saja yang dipilih secara acak untuk mengikuti Ujian Nasional sebagai sampel. Dengan demikian, kita dapat menentukan kualitas lulusan siswa Indonesia secara cepat dan tepat.
Namun bagaimanapun sistem quick count ini memang memiliki kelemahan. Walaupun dapat menentukan kualitas pendidikan di Indonesia secara cepat, tepat, dan murah, namun sistem ini tidak cocok apabila ingin menentukan angka kelulusan secara detail hingga setiap siswa. Sistem ini hanya dapat dipakai untuk menentukan hasil secara umum, tidak untuk menentukan hasil secara spesifik. Namun setidaknya, dana 250 milyar rupiah yang dipakai pemerintah untuk kegiatan Ujian Nasional ini serta beban mental yang dialami siswa dapat ditekan serendah-rendahnya.
Nah, sekarang apakah pemerintah mau menggunakan sistem ini? Apakah pemerintah percaya dengan keakuratan metode quick count ini? Sayang pemerintah lebih percaya pada penghitungan manual dibandingkan metode quick count dan seluruh siswa Indonesia kembali terpaksa untuk stress dan mempertaruhkan nasibnya pada Ujian Nasional tahun ini. Selamat Ujian Nasional 2008.
4 Comments