Matikan TV 20 Juli 2008

“Sebagian besar anak Indonesia menonton TV sekitar 1.600 jam setahun, padahal hanya 740 jam mereka belajar di bangku sekolah”
Itulah kata-kata yang tertera dibawah judul Ikuti “HARI TANPA TV 2008” . Tulisan itu terdapat pada web http://kidia.org/. Sebuah situs yang terus menerus menginformasikan hal-hal kontradiksi mengenai televisi.
Ajakan itu jatuh pada hari Minggu, 20 Juli 2008. Media pemerhati televisi itu beranggapan TV memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat dewasa ini. TV dapat menjadi sumber informasi dan edukasi yang sangat handal. Namun TV juga dapat menjadi sumber hiburan yang tiada henti. Aktivitas menonton telah TV memangkas waktu interaksi dalam keluarga, menimbulkan dampak negatif berupa peniruan dan penanaman nilai pada anak-anak dan remaja, berkontribusi pada gaya hidup yang tidak sehat, konsumtif, dsb.
Fungsi siaran TV sebagai hiburan jauh lebih menonjol dibanding dengan fungsi yang seharusnya bisa diperankan berupa informasi dan edukasi. Keluarga yang mengalokasikan waktu yang lebih sedikit untuk menonton TV, akan mempunyai lebih banyak waktu untuk aktivitas-aktivitas yang lebih posistif, interaktif dan mempererat hubungan kekeluargaan. Penelitian Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) tahun 2006 menunjukkan bahwa jumlah jam menonton TV pada anak-anak usia sekolah dasar berkisar antara 30-35 jam seminggu, ditambah dengan sekitar 10 jam untuk bermain video game. Ini adalah jumlah waktu yang terlalu besar untuk hiburan yang kurang sehat bagi anak dan remaja. Dalam setahun, jumlah jam menonton TV ini mencapai lebih dari 1.600 jam. Bandingkan dengan jumlah jam belajar di sekolah dasar negeri selama setahun yang hanya sekitar 740 jam untuk kelas rendah.
Secara umum dapat dikatakan bahwa ketergantungan anak pada tayangan TV sudah sangat tinggi dan mencapai titik yang mengkhawatirkan. Ada beberapa fakta yang dapat menggambarkan betapa mengkhawatirkannya ketergantungan itu:
Pertama, belum terbentuk pola kebiasaan menonton TV yang sehat. TV masih menjadi hiburan utama keluarga yang dikonsumsi setiap hari dalam waktu yang panjang tanpa seleksi yang ketat terhadap pilihan acara yang mereka tonton.
Kedua, kebanyakan isi acara TV kita tidak aman dan tidak sehat untuk anak. Banyak acara TV dengan kandungan materi untuk orang dewasa yang ditayangkan pada jam-jam anak biasa menonton dan kemudian disukai dan ditiru oleh anak-anak. Acara kekerasan, murahan, dan sebenarnya terus diulang-ulang selalu ditampilkan di televisi negeri ini.
Ketiga, lemahnya peraturan bidang penyiaran dan penegakannya. Sejak indutri televisi berkembang pesat, permasalahan yang terkait dengan isi tayangan makin membesar. Hingga kini masalah tersebut belum dapat diatasi dengan efektif.
Oleh sebab itu, nggak ada salahnya, satu hari dalam setahun diisi dengan kegiatan lain yang lebih baik dan bermanfaat. Apalagi hari tanpa TV tersebut jatuh pada hari Minggu, jadi kita dapat melakukan hal lainnya sendiri atau bersama keluarga sementara TV dimatikan. Mari kita dukung hari tanpa TV 2008.

Euro 2008 Ganggu Ujian Semester SMA & SMP

euro

Saya terpaksa harus gigit jari lagi, pertandingan Euro 2008 sebagian besar dilaksanakan pada saat Ujian Semester atau Ujian Kenikan Kelas bagi siswa SMA dan SMP dilaksanakan. Padahal saya sudah bersemangat menyambut Euro 2008 mendukung Perancis, meski saya bukan bola mania.
Euro 2008 kali ini dilangsungkan dari tanggal 7 hingga 29 Juni 2008. Sementara itu, ujian semester bagi siswa SMA dimulai pada tanggal 11 Juni 2008 hingga 18 Juni 2008 dan bagi siswa SMP dimulai dari 16 Juni 2008 hingga 19 Juni 2008. Itu berarti sekitar 22 pertandingan tidak bisa saya lihat karena saya butuh konsentrasi untuk belajar. Lagipula hampir semua pertandingan diselenggarakan tengah malam. Tega amat UEFA dan stasiun TV-nya!
Kejadian seperti ini sebenarnya juga saya dan siswa lain alami pada saat Piala Dunia 2006 di Jerman yang lalu. Lagi-lagi jadwal pertandingan Piala Dunia 2006 bertepatan dengan jadwal Ujian Semester anak SMA dan SMP. Alhasil, banyak yang tidak konsentrasi terhadap ujiannya.
Untuk itu saya menghimbau kepada UEFA sebagai penyelenggara Euro 2008, dan FIFA sebagai penyelenggara Piala Dunia, kalau bisa (tapi impossible rasanya) agar memundurkan jadwal Euro dan Piala Dunia ini pada bulan Juli atau Agustus. Dan pada pemegang lisensi untuk siaran acara semacam ini, agar jangan menayangkannya tengah malam. Tengah malam itu waktu buat istirahat, bukan buat nonton bola harusnya.
Pada kawan-kawan SMA dan SMP, selamat ujian semester atau ujian kenaikan kelas. Jangan memaksakan diri menonton pertandingan Euro 2008 kalau tidak sanggup dan mengganggu jadwal belajar buat ujian. Selamat menempuh ujian!

Kita Terlalu Rajin!!!

Saat ini begitu banyak mata pelajaran yang harus dipelajari siswa SMA dan SMP di sekolah. Kira-kira dalam seminggu ada lebih dari 12 mata pelajaran yang harus dipelajari siswa diantaranya Agama, B.Indonesia, B.Inggris, PKn, Fisika, Biologi, Kimia, Sejarah, Geografi, Sosiologi, Ekonomi, Matematika, Kesenian, dan Teknologi Informasi (TI). Apalagi jika ditambah dengan pelajaran muatan lokal dan praktek seperti Olahraga, KTM, BAM, Bahasa Mancanegara lainnya (Jepang, Jerman, Arab, Perancis) yang semakin memberatkan siswa. Dengan demikian, siswa terpaksa harus melahap lebih dari 16 buku dalam seminggu, mengorbankan waktu istirahat lebih kurang dua jam, ditambah tugas yang menumpuk dari guru.
Lebih parah lagi, siswa harus pula mengikuti pelajaran tambahan atau les dan semacamnya agar dapat berkompetisi pada era persaingan yang sangat ketat saat ini. Tak heran siswa Indonesia dapat dikatakan sebagai siswa paling “rajin” dan paling banyak belajar padahal hasilnya entah seperti apa. Jika dihitung-hitung, beban jam pelajaran anak SD hingga SMA di Indonesia ternyata lebih dari 1.000 jam per tahun. Angka ini terlama di dunia. Padahal, jumlah jam sekolah di negara-negara Asia-Pasifik (yang bukan termasuk negara maju) hanya 900-960 jam per tahun. Tak heran bila tiba-tiba pelajaran sekolah dihentikan karena guru rapat atau sebagainya, siswa justru bersorak gembira.
Padahal kurikulum 2006 (KTSP) telah mengisyaratkan adanya pengefesiensian pembelajaran di sekolah. Jam pelajaran dikurangi. BSNP telah menetapkan jam pelajaran di tingkat SD per tahun, paling lama 700 jam, SMP sekitar 900 jam, sedangkan di SMA/MA, sekitar 1.000 jam.
Namun sayang, pengurangan jam belajar di sekolah tak diikuti dengan pengurangan mata pelajaran. Justru mata pelajaran yang banyak tersebut dipadat-padatkan waktunya sehingga malah menambah bebas siswa. Padahal banyak mata pelajaran yang dianggap mirip-mirip sehingga dapat digabung atau dikurangi. Pelajaran Agama dan PKn misalnya, dapat digabung menjadi pelajaran agama saja sebab pada umumnya tujuannya satu, menjadikan siswa yang beriman dan bermoral. Pelajaran IPS (Sosiologi, Geografi, Ekonomi, Sejarah) kalau perlu digabungkan saja kembali menjadi satu pelajaran seperti halnya di Sekolah Dasar. Kalau melihat negara maju, pelajaran IPS dan semacamnya bahkan materinya lebih sedikit dengan ditiadakannya pelajaran seografi dan sejarah. Lalu mata pelajaran yang bersifat tambahan seperti KTM, BAM, Bahasa Mancanegara lainnya (Jepang, Jerman, Arab, Perancis) kalau dapat dikurangi sesedikit mungkin jam pelajarannya.
Siswa juga manusia. Siswa bukanlah mesin yang sepanjang hari hanya menuntut ilmu. Hendaknya hal ini dapat diperhatikan kalangan pendidik dan pemerintah agar beban siswa tidak begitu berat.

UN dan Egoisme Pemerintah

Pemerintah kembali berkomitmen untuk melaksanakan Ujian Nasional pada tahun 2008 nanti. Pelaksanaannyapun lebih diperluas. Jenjang Sekolah dasar (SD) yang selama ini hanya mengikuti Ujian Sekolah ikut mengikuti Ujian Nasional tahun depan nanti. Tidak hanya pelaksanaannya, nilai standar angka kelulusan yang mencapai 5,00 juga direncanakan akan ditambah.
Lebih parahnya lagi, beberapa mata pelajaran baru bahkan dimasukkan dalam daftar Ujian Nasional 2008 untuk tingkat SMP dan SMA sederajat. Sebagaimana berita yang dimuat pada Harian Pagi Padang Ekspres Minggu, 30 September 2007 yang lalu untuk SMP mata pelajaran yang diujiankan menjadi empat yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika, dan IPA. Untuk SMA bahkan lebih banyak lagi, mencapai enam mata pelajaran untuk setiap jurusan. Jurusan IPA, selain pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika harus ditambah dengan Fisika, Biologi, dan Kimia. Sedangkan jurusan IPS ditambah dengan Sosiologi, Geografi, dan Ekonomi. Untuk SMK, tergantung spesialisasi sekolah tersebut.
Badan Standar Nasional Pendidikan (BNSP) beralasan, penambahan mata pelajaran ini tidak lain demi mengakomodasikan mata pelajaran dasar yang belum masuk Ujian Nasional. Bahkan, BNSP memperkirakan bahwa hal ini tidak akan menambah beban siswa, melainkan “menambah” angka kelulusan karena mata pelajaran yang ditambahkan sesuai dengan spesialisasi di kelas masing-masing.
Pernyataan BNSP ini jelas sangat egois, tidak tahu diri, dan tidak mempunyai alasan yang kuat. Pemerintah sepertinya tidak begitu memperhatikan beratnya perjuangan siswa untuk lulus Ujian Nasional ini, mulai dari penambahan jam pelajaran sekolah, mengikuti kursus/ les di mana-mana yang membutuhkan dana yang cukup besar, hingga tersitanya waktu untuk beristirahat bagi para siswa. Apalagi bila ditambah dengan tiga mata pelajaran bagi SMA dan satu pelajaran bagi SMP, sungguh akan sangat memberatkan siswa nantinya untuk mendapatkan kelulusan.
Pemerintah juga seolah tidak tahu diri. Pelaksanaan Ujian Nasional oleh pemerintah pada kenyataannya masih banyak kekurangan. Masih banyak kecurangan yang terjadi di kalangan siswa dan juga pengawas Ujian Nasional. Bahkan, pemerintah sendiri juga banyak melakukan kecurangan-kecurangan agar hasil Ujian Nasional terlihat memuaskan. Lihatlah tatkala banyak media massa melaporkan adanya upaya Dinas Pendidikan di berbagai daerah bersama pengawas Ujian Nasional serta pihak sekolah untuk membocorkan soal dan mengupayakan semaksimal mungkin agar siswanya dapat lulus.
Kekalahan pemerintah terhadap gugatan warga negara (citizen) terhadap pelaksanaan Ujian Nasional di pengadilan negeri di Jakarta beberapa waktu karena begitu banyaknya kecurangan serta korban pelaksanaan Ujian Nasional sepertinya juga dilupakan oleh pemerintah.Padahal dengan kemenangan atas gugatan pelaksanaan Ujian Nasional ini, hal ini jelas menunjukkan bahwa pemerintah tidak mendapatkan dukungan, baik secara hukum maupun oleh masyarakat sendiri dalam pelaksanaan Ujian Nasional. Apalagi jika mata pelajaran nasional ditambah menjadi beberapa lagi.
Pemerintah seharusnya mengkaji dengan sungguh-sungguh pelaksanaan Ujian Nasional ini terlebih dahulu. Pemerintah seharusnya terlebih dahulu menutupi kekurangan pelaksanaan Ujian Nasional, bukan justru lebih memberatkan sehingga makin membuka peluang untuk berbuat kecurangan. Pemerintah meskinya jangan egois dan banyak berkoordinasi dengan siswa sendiri selaku peserta Ujian Nasional terhadap pelaksanaan Ujian Nasional yang terbaik. Pemerintah diharapkan jangan bersikap egois, mengambil keputusan yang memberatkan dalam pelaksanaan Ujian Nasional, apalagi tanpa mempunyai dukungan oleh berbagai pihak termasuk siswa sebagai peserta UN sendiri serta alasan yang logis.

Petaka Besar di Balik Perusahaan Zionis

Karena memajang dan menuduh logo indosat dan trans tv berbau zionisme di blog saya ini, banyak pengomentar yang bertanya pada saya, bahkan ada yang marah dan mengumpat. Ada yang berkata: “Jangan berfitnah, buktikan kalo benar2 ya. Soalya Mukmin tidak pernah Su’uzhon…“, “ay ya wae…ga’ usah terlalu d’dramatisir mslh k’ya gitu…“, “gitu aje kok repot….. KAPAN MAJUNYA INDONESIA KALAU ISINYA HANYA SALING CURIGA MELULU….. ” dan sebagainya. Anda dapat melihat semuanya disini.
Sebenarnya dibalik perusahaan-perusahaan yang berbau Yahudi dan Zionis ini, ada maksud dan rencana yang lebih besar dan jahat. Namun tidak banyak yang tahu akan tujuan dan perusahaan-perusahaan milik zionis ini.
Sebagaimana yang tertuang dalam Protocol of Zions, kaumYahudi Zionis berusaha untuk menguasai dunia dan mendirikan kembali Kerajaan Sulaiman yang sudah lama hilang. Langkah awal mereka adalah menduduki kembali tanah Palestina yang merupakan pusat dari Kerajaan Sulaiman ini.
Namun, rencana kaum Yahudi Zionis ini mempunyai banyak hambatan yaitu kurangnya dana dan timbulnya perlawanan dari masyarakat muslim Palestina. Kaum Yahudi membutuhkan dana yang cukup besar untuk memenangkan pertempuran, membunuh siapapun yang melawan. dan memperoleh senjata. Untuk itulah, bangsa Israel ini mendekati Amerika Serikat yang memang merupakan negara kaya.
Tidak hanya mendekati Amerika Serikat, kaum Yahudi berusaha pula untuk menguasai perusahaan-perusahaan besar yang mempunyai keuntungan jutaan bahkan milyaran dolar. Tujuannya tidak lain tentu untuk dana perang, membiayai negara penjajah yaitu Israel serta menghancurkan rakyat Palestina yang tertindas. Alhasil, selain Indosat seperti yang sudah saya sebutkan disini, perusahaan lain seperti MC Donald, Coca Cola, KFC, Walt Disney, Klub bola Arsenal dan banyak perusahaan lainnya dikuasai oleh mereka. Anda dapat melihat refrensi lengkap tentang perusahaan Zionis ini di situs ini, atau dibuku Ketika Rupiah Menjadi Peluru Zionis yang sudah cukup lama terbit.
Nah, jadi sudah sadarkah anda, bahwa dibalik uang yang anda berikan kepada perusahaan zionis ini, anda telah turut mendukung rencana busuk Yahudi Israel dan juga turut memberikan mereka senjata untuk membunuh rakyat Palestina, dan bahkan untuk menguasai dunia di kemudian harinya.

« Tulisan sebelumnya