Pendidikan di Indonesia dari Waktu ke Waktu
Selama sejarah bangsa Indonesia, aspek pendidikan merupakan satu hal yang tidak dapat dipisahkan dari kelangsungan hidup bangsa Indonesia itu sendiri. Munculnya Sriwijaya dan Majapahit sebagai kerajaan nusantara pada masanya dengan berbagai karya agung yang masih dapat kita temukan hingga saat ini hingga merdekanya bangsa ini tidak lepas dari pengaruh pendidikan pada masa itu. Di samping itu, pendidikan di Indonesia banyak mengalami perubahan dari waktu ke waktu, dari yang semula hanya diperuntukkan untuk kalangan agamawan dan bangsawan, hingga pendidikan yang merata untuk semua kalangan. Inilah perjalanan pendidikan di Indonesia dari waktu ke waktu dan tokoh yang mewarnainya.
Zaman Hindu-Budha
Sistem pendidikan pada masa lalu Hindu-Budha, antara abad ke-4 hingga 13 Masehi terekam baik dalam berbagai catatan dan peninggalan sejarah. Sistem pendidikan Hindu-Buddha dikenal dengan istilah karsyan. Karsyan adalah tempat yang diperuntukan bagi petapa dan untuk orang-orang yang mengundurkan diri dari keramaian dunia dengan tujuan mendekatkan diri dengan dewa tertinggi. Karsyan dibagi menjadi dua bentuk yaitu patapan dan mandala. Patapan memiliki arti tempat bertapa, tempat dimana seseorang mengasingkan diri untuk sementara waktu hingga ia berhasil dalam menemukan petunjuk atau sesuatu yang ia cita-citakan. Sedangkan mandala atau kedewaguruan merupakan tempat suci yang menjadi pusat segala kegiatan keagamaan, sebuah kawasan atau kompleks yang diperuntukan untuk para wiku/pendeta, murid, dan mungkin juga pengikutnya. Mereka hidup berkelompok dan membaktikan seluruh hidupnya untuk kepentingan agama dan nagara. Mandala tersebut dipimpin oleh dewaguru.
Zaman Islam
Berkembangnya kerajaan Islam di nusantara pada abad ke-13 Masehi juga menimbulkan pengaruh kepada dunia pendidikan. Bisa dikatakan sistem pendidikan pada masa Islam merupakan bentuk akulturasi antara sistem pendidikan patapan Hindu-Buddha dengan sistem pendidikan Islam yang telah mengenal istilah uzlah (menyendiri). Akulturasi itu tampak pada sistem pendidikan dimana guru dan murid berada dalam satu pemukiman yang disebut pesantren. Selain itu pada umumnya pesantren jauh dari pemukiman penduduk, keramaian masyarakat, dan juga kota-kota besar.
Namun kedatangan penjajah di Indonesia sedikit banyak telah menghambat perkembangan pendidikan di Indonesia pada masa itu. Pendidikan dianggap dapat menimbulkan benih-benih perlawanan di kalangan rakyat sehingga pemerintah kolonial menghambat pendidikan di Indonesia pada masa itu.
Zaman Kolonial
Hingga tahun 1903, pendidikan formal hanya diperuntukkan bagi putra-putri Belanda. Munculnya kaum Etis yang di pelopori oleh Pieter Brooshooft dan C.Th. van Deventer membuka mata penjajah Belanda untuk memberikan pendidikan kepada kaum pribumi. Sejak itulah berbagai sekolah didirikan baik untuk kaum priyayi maupun rakyat biasa yang hampir merata di daerah-daerah. Namun pendidikan yang diberikan hanya sebatas pendidikan untuk membaca, menulis, dan berhitung. Sekolah yang ada pada masa itu diantaranya ELS, HIS, HCS, MULO, AMS. Semuanya untuk tingkat sekolah dasar dan menengah. Sementara itu untuk sekolah tinggi terdapat STOVIA (sekolah kedokteran) dan Rechts School (sekolah hukum). Tujuan Belanda memberikan pendidikan tersebut tidak lain hanyalah untuk mempekerjakan mereka demi kepentingan Belanda seperti karyawan perusahaan Belanda, pegawai rendahan, buruh, dan sebagainya. Selain di sekolah-sekolah yang didirikan Belanda di Indonesia, banyak juga yang bersekolah di luar negeri seperti di Belanda. Mereka yang bersekolah di luar negeri ini kelak menjadi tokoh-tokoh yang memunculkan pergerakan nasional menuju kemerdekaan Indonesia. Tidak hanya sekolah yang didirikan pemerintah kolonial Belanda, berdiri pula institusi pendidikan yang berasal dari rakyat sendiri seperti Taman Siswa oleh Ki Hadjar Dewantara, Sekolah Kartini, INS Kayutanam, dan Muhammadiyah.
Masuknya Jepang ke Indonesia pada masa Perang Dunia II sedikit banyak telah merubah sistem pendidikan di Indonesia. Setidaknya ada tiga macam perubahan mendasar pada pendidikan yang terjadi pada masa pendudukan Jepang ini. Yang pertama disederhanakannya segala macam jenis dan tingkat pendidikan menjadi satu macam saja yang berlangsung selama enam tahun. Kedua, pendidikan tidak lagi memandang status seseorang apakah dia pribumi atau golongan priyayi dan juga penggunaan Bahasa Indonesia dalam pengajaran. Ketiga, indoktrinisasi pengaruh Jepang untuk kepentingan perang. Melalui sekolah, Jepang menanamkan semangat untuk mewujudkan “Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya”.
Zaman Kemerdekaan
Segera setelah kemerdekaan, para pemimpin Indonesia menjadikan pendidikan sebagai hak setiap warga negara, mencerdaskan kehidupan bangsa menjadi tujuan nasional. Dicanangkanlah bahwa dalam 10 tahun ke depan pada waktu itu seluruh anak Indonesia harus bisa menikmati sekolah. Oleh karena itu dilakukan berbagai pembenahan seperti penambahan jumlah pengajar, pembangunan gedung sekolah, dan sebagainya. Pemerintah juga membagi tingkatan pendidikan seperti Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, dan Perguruan Tinggi.
Pada awal kemerdekaan, pembelajaran di sekolah-sekolah lebih ditekankan pada semangat nasionalisme dan membela tanah air. Namun setelah berakhirnya perang kemerdekaan, sistem pendidikan berangsur-angsur diperbaiki. Kurikulum pendidikan pada masa kolonial mulai ditinggalkan dan diganti dengan kurikulum nasional. Selain itu, pemerintah juga menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama dalam pembangunan dengan memberikan 20% dari APBN untuk pendidikan.





