Perbandingan Harga BBM di Seluruh Dunia (Update)
Kenaikan harga minyak dunia, sekitar US$ 130 per barel membuat harga BBM di negeri kita juga melonjak. Hal ini pun cukup memberatkan masyarakat, terutama bagi masyarakat menengah ke bawah. Selain itu harga barang kebutuhan pokok ikut pula naik.
Namun apakah hanya Indonesia saja yang mengalami kenaikan harga BBM? Tidak! Ternyata ada beberapa negara yang juga menaikkan harga BBM-nya. Mungkin terpengaruh pula oleh kenaikan harga minyak dunia. Di antara beberapa negara tersebut seperti Singapura, India, Amerika Serikat, Bangladeh, Malaysia, dan Indonesia sendiri tentunya. Berikut daftar perbandingan harga BBM di seluruh dunia (dalam rupiah per liter):
Norwegia 23.157
Belanda 23.064
Jerman, Berlin 22.227
Belgia 22.134
Perancis 21.390
Italia 21.390
Finlandia 20.925
Portugal 20.646
Inggris 19.995
Polandia 18.786
Spanyol 16.461
Israel 15.810
Singapura** 14.043
Jepang 13.950
Brazil 13.671
Australia 12.927
Afrika Selatan 10.881
India** 9.486
Azerbaijan 9.300
Amerika Serikat** 9.207
Rusia 9.114
Bangladesh** 9.021
Kazakhstan 7.068
Meksiko 6.324
Indonesia 6.000
China 5.673
Nigeria 5.487
Malaysia** 4.743
Iran 4.092
Mesir 2.976
Arab Saudi 1.116
Venezuela 279
** Harga pada 14 Mei 2008
Sumber: Reuters/Kompas
Jika harga BBM di Indonesia dibandingkan negara-negara lain di dunia, harga BBM di Indonesia bisa dikatakan cukup “rendah”. Bandingkan dengan Eropa misalnya, yang rata-rata harga BBM nya 3-4 kali lipat negara kita. Namun diantara negara-negara OPEC, maka Indonesia bisa dikatakan sebagai negara dengan harga BBM tertinggi. Pada perbandingan harga BBM di atas, dapat kita lihat harga tertinggi dipegang oleh Norwegia (23.157) dan terendah Venezuela (279).
Kita Terlalu Rajin!!!
Saat ini begitu banyak mata pelajaran yang harus dipelajari siswa SMA dan SMP di sekolah. Kira-kira dalam seminggu ada lebih dari 12 mata pelajaran yang harus dipelajari siswa diantaranya Agama, B.Indonesia, B.Inggris, PKn, Fisika, Biologi, Kimia, Sejarah, Geografi, Sosiologi, Ekonomi, Matematika, Kesenian, dan Teknologi Informasi (TI). Apalagi jika ditambah dengan pelajaran muatan lokal dan praktek seperti Olahraga, KTM, BAM, Bahasa Mancanegara lainnya (Jepang, Jerman, Arab, Perancis) yang semakin memberatkan siswa. Dengan demikian, siswa terpaksa harus melahap lebih dari 16 buku dalam seminggu, mengorbankan waktu istirahat lebih kurang dua jam, ditambah tugas yang menumpuk dari guru.
Lebih parah lagi, siswa harus pula mengikuti pelajaran tambahan atau les dan semacamnya agar dapat berkompetisi pada era persaingan yang sangat ketat saat ini. Tak heran siswa Indonesia dapat dikatakan sebagai siswa paling “rajin” dan paling banyak belajar padahal hasilnya entah seperti apa. Jika dihitung-hitung, beban jam pelajaran anak SD hingga SMA di Indonesia ternyata lebih dari 1.000 jam per tahun. Angka ini terlama di dunia. Padahal, jumlah jam sekolah di negara-negara Asia-Pasifik (yang bukan termasuk negara maju) hanya 900-960 jam per tahun. Tak heran bila tiba-tiba pelajaran sekolah dihentikan karena guru rapat atau sebagainya, siswa justru bersorak gembira.
Padahal kurikulum 2006 (KTSP) telah mengisyaratkan adanya pengefesiensian pembelajaran di sekolah. Jam pelajaran dikurangi. BSNP telah menetapkan jam pelajaran di tingkat SD per tahun, paling lama 700 jam, SMP sekitar 900 jam, sedangkan di SMA/MA, sekitar 1.000 jam.
Namun sayang, pengurangan jam belajar di sekolah tak diikuti dengan pengurangan mata pelajaran. Justru mata pelajaran yang banyak tersebut dipadat-padatkan waktunya sehingga malah menambah bebas siswa. Padahal banyak mata pelajaran yang dianggap mirip-mirip sehingga dapat digabung atau dikurangi. Pelajaran Agama dan PKn misalnya, dapat digabung menjadi pelajaran agama saja sebab pada umumnya tujuannya satu, menjadikan siswa yang beriman dan bermoral. Pelajaran IPS (Sosiologi, Geografi, Ekonomi, Sejarah) kalau perlu digabungkan saja kembali menjadi satu pelajaran seperti halnya di Sekolah Dasar. Kalau melihat negara maju, pelajaran IPS dan semacamnya bahkan materinya lebih sedikit dengan ditiadakannya pelajaran seografi dan sejarah. Lalu mata pelajaran yang bersifat tambahan seperti KTM, BAM, Bahasa Mancanegara lainnya (Jepang, Jerman, Arab, Perancis) kalau dapat dikurangi sesedikit mungkin jam pelajarannya.
Siswa juga manusia. Siswa bukanlah mesin yang sepanjang hari hanya menuntut ilmu. Hendaknya hal ini dapat diperhatikan kalangan pendidik dan pemerintah agar beban siswa tidak begitu berat.






8 komentar