UN dan Quick Count
Sebuah blog memuat judul artikel yang menarik perhatian saya. Artikel itu berjudul “Cara Cepat Matematika untuk Menghitung UN, SPMB (UMPTN, SNM PTN), dan Pilkada”. Dalam artikel yang ditulis 15 April 2008 yang lalu ini, penulisnya memberikan sebuah cara mengagumkan untuk menghitung kualitas pendidikan di Indonesia yang lazim digunakan pada Pilkada. Metode itu tidak lain adalah metode quick count (perhitungan cepat) yang dalam istilah matematika (statistik) metode ini sering dikenal sebagai metode sampling – berbeda dengan sensus.
Penulisnya juga memaparkan kelebihan quick count tersebut yang tidak kalah dibandingkan metode penghitungan manual/satu persatu sebenarnya. Quick count membutuhkan waktu yang singkat untuk melakukan penghitungan dengan akurasi yang tidak kalah tepat dibandingkan penghitungan manual. Quick count juga tidak memakan biaya yang besar untuk melakukannya. Dengan menggunakan metode quick count ini, hasil suatu Pilkada bisa ditentukan dalam waktu beberapa jam saja dengan tingkat akurasi yang tinggi.
Pemikiran ini menurut saya termasuk pemikiran baru dan unik yang patut kita perhitungkan sementara pemerintah dan pelajar terus berdebat mengenai pelaksanaan Ujian Nasional. Selama ini, pelaksanaan Ujian Nasional penuh kontroversi. Hanya untuk menentukan kualitas lulusan siswa Indonesia dan menentukan nilai akhir, pemerintah harus mengeluarkan dana milyaran rupiah. Selain itu semua siswa harus mempertaruhkan nasibnya selama ia belajar di jenjang sekolah tersebut hanya pada beberapa hari di Ujian Nasional. Sungguh kejam dan tragis nasib pelajar di Indonesia.
Padahal dengan menggunakan metode quick count, secara cepat dan tepat kita dapat mengetahui kualitas lulusan pendidikan di Indonesia. Dengan metode ini, tidak harus semua siswa mengikuti Ujian Nasional. Cukup beberapa siswa saja yang dipilih secara acak untuk mengikuti Ujian Nasional sebagai sampel. Dengan demikian, kita dapat menentukan kualitas lulusan siswa Indonesia secara cepat dan tepat.
Namun bagaimanapun sistem quick count ini memang memiliki kelemahan. Walaupun dapat menentukan kualitas pendidikan di Indonesia secara cepat, tepat, dan murah, namun sistem ini tidak cocok apabila ingin menentukan angka kelulusan secara detail hingga setiap siswa. Sistem ini hanya dapat dipakai untuk menentukan hasil secara umum, tidak untuk menentukan hasil secara spesifik. Namun setidaknya, dana 250 milyar rupiah yang dipakai pemerintah untuk kegiatan Ujian Nasional ini serta beban mental yang dialami siswa dapat ditekan serendah-rendahnya.
Nah, sekarang apakah pemerintah mau menggunakan sistem ini? Apakah pemerintah percaya dengan keakuratan metode quick count ini? Sayang pemerintah lebih percaya pada penghitungan manual dibandingkan metode quick count dan seluruh siswa Indonesia kembali terpaksa untuk stress dan mempertaruhkan nasibnya pada Ujian Nasional tahun ini. Selamat Ujian Nasional 2008.






gmn cara prakteknya?boleh jg utk dterapkan d daerahku.kbtln aku pngmat pndidkn,lho?
ku lg garap SEKOLAH BESAR KEHIDUPAN.diharapkan,skolah model ini dpt mnjdkn para plajar PD saat ujian dtg.stresnya mrk,hmtku,krn materi yg dtrima hnya sbtas mmenuhi kurikulum yg ga jelas juntrunganya.wajar,jika parasiswa menjadi gagap ktka un tiba.klo boleh,aku mau download metode QC yg anda pnya itu.dmi ms dpn gnerasi qt.mhn blsnya ya?3ms byk infonya.dtggu y?dg sng hati,,,
SBK(SekolahBesarKehidupan)ini mrupakan bentuk tnggungjwb kita bersama atas gagalnya pendidkn formal yg ga mmpedulikan nilai pragmatis,personal,sosial&moral pelajar.SBK lahir,berkembang dari dan untuk masyarakat luas trutama kelas bwah/masy yg lemah EKONOMI-POLITIknya.
Quick count lebih bagus untuk ulangan Matematika, Fisika, Kimia dan Akutansi, karena banyak soal hitungannya …..
Pak bantu donk, saya ada tugas Quick count
kalau bisa materinya yang lebih luar biasa ya pak bantu saya donk pak,
saya tunggu ya pak dan akan say do’a kan agar materi tentang Quick count tambah luar biasa dan makin keren ja pak,
terima kasih ya pak
kok sampai saat ini gak ada follow-upnya?
siapa yah….pemandunya?
kok sampai hari ini gak ada comment dr pemandunya ???
@ Riki Septia Wiranata
@ MbakMu
@ dede wahyudin
Wah, kalau sampai segitu mendalam saya belum bisa. Saya hanya membuat opini. Kalau sampai hal-hal yang mendalam menyangkut statistik dan sebagainya, saya juga masih belajar. Mungkin anda lebih tahu untuk mengembangkannya daripada saya. Mohon maaf belum bisa membantu buat sdr. Riki Septia Wiranata, MbakMu, dan dede wahyudin.