UN dan Quick Count
April 22, 2008 pada 3:55 pm (pendidikan)
Sebuah blog memuat judul artikel yang menarik perhatian saya. Artikel itu berjudul “Cara Cepat Matematika untuk Menghitung UN, SPMB (UMPTN, SNM PTN), dan Pilkada”. Dalam artikel yang ditulis 15 April 2008 yang lalu ini, penulisnya memberikan sebuah cara mengagumkan untuk menghitung kualitas pendidikan di Indonesia yang lazim digunakan pada Pilkada. Metode itu tidak lain adalah metode quick count (perhitungan cepat) yang dalam istilah matematika (statistik) metode ini sering dikenal sebagai metode sampling – berbeda dengan sensus.
Penulisnya juga memaparkan kelebihan quick count tersebut yang tidak kalah dibandingkan metode penghitungan manual/satu persatu sebenarnya. Quick count membutuhkan waktu yang singkat untuk melakukan penghitungan dengan akurasi yang tidak kalah tepat dibandingkan penghitungan manual. Quick count juga tidak memakan biaya yang besar untuk melakukannya. Dengan menggunakan metode quick count ini, hasil suatu Pilkada bisa ditentukan dalam waktu beberapa jam saja dengan tingkat akurasi yang tinggi.
Pemikiran ini menurut saya termasuk pemikiran baru dan unik yang patut kita perhitungkan sementara pemerintah dan pelajar terus berdebat mengenai pelaksanaan Ujian Nasional. Selama ini, pelaksanaan Ujian Nasional penuh kontroversi. Hanya untuk menentukan kualitas lulusan siswa Indonesia dan menentukan nilai akhir, pemerintah harus mengeluarkan dana milyaran rupiah. Selain itu semua siswa harus mempertaruhkan nasibnya selama ia belajar di jenjang sekolah tersebut hanya pada beberapa hari di Ujian Nasional. Sungguh kejam dan tragis nasib pelajar di Indonesia.
Padahal dengan menggunakan metode quick count, secara cepat dan tepat kita dapat mengetahui kualitas lulusan pendidikan di Indonesia. Dengan metode ini, tidak harus semua siswa mengikuti Ujian Nasional. Cukup beberapa siswa saja yang dipilih secara acak untuk mengikuti Ujian Nasional sebagai sampel. Dengan demikian, kita dapat menentukan kualitas lulusan siswa Indonesia secara cepat dan tepat.
Namun bagaimanapun sistem quick count ini memang memiliki kelemahan. Walaupun dapat menentukan kualitas pendidikan di Indonesia secara cepat, tepat, dan murah, namun sistem ini tidak cocok apabila ingin menentukan angka kelulusan secara detail hingga setiap siswa. Sistem ini hanya dapat dipakai untuk menentukan hasil secara umum, tidak untuk menentukan hasil secara spesifik. Namun setidaknya, dana 250 milyar rupiah yang dipakai pemerintah untuk kegiatan Ujian Nasional ini serta beban mental yang dialami siswa dapat ditekan serendah-rendahnya.
Nah, sekarang apakah pemerintah mau menggunakan sistem ini? Apakah pemerintah percaya dengan keakuratan metode quick count ini? Sayang pemerintah lebih percaya pada penghitungan manual dibandingkan metode quick count dan seluruh siswa Indonesia kembali terpaksa untuk stress dan mempertaruhkan nasibnya pada Ujian Nasional tahun ini. Selamat Ujian Nasional 2008.
