Bersama Buku, Mencapai Indonesia Cerdas 2020
Jika ingin maju dan menguasai dunia, kuasailah informasi! Ungkapan tersebut mengandung makna, jika informasi memiliki suatu kekuatan yang sangat hebat sehingga mampu menundukkan dunia ini. Sebagai sebuah bangsa, kita tidak boleh ketinggalan informasi. Informasi amat dibutuhkan untuk menunjang kemajuan bangsa kita. Tanpa adanya informasi kita akan selalu tertinggal. Untuk itu kita mesti menguasai informasi.
Salah satu sumber informasi yang sangat berharga adalah buku. Buku adalah jendela dunia. Buku dapat memberi kita berbagai informasi dan pengetahuan. Tanpa buku, kita tidak akan mengenal berbagai informasi dan pengetahuan seperti saat sekarang ini.
Karena banyaknya manfaat, buku menjadi barang yang sangat berharga. Begitu berharganya buku, sampai pada suatu riwayat Imam Al-Ghazali yang baru pulang menuntut ilmu dan membawa banyak buku bahkan rela memberikan seluruh hartanya dan mengorbankan nyawanya asalkan koleksi bukunya tidak diambil oleh para perampok.
Oleh karena banyaknya manfaat di dalam buku, kita mesti membiasakan banyak membaca buku. Dengan banyak membaca buku, maka kita turut membantu negara kita untuk maju. Buku dapat menambah wawasan dan pengetahuan kita. Tidak membaca buku berarti kita tidak mendukung negara kita ini untuk maju dan kita akan selalu terbelakang.
Joseph Brosdsky, seorang penyair yang meraih hadiah nobel pun berkata ,”Ada beberapa kejahatan yang lebih buruk ketimbang membakar buku. Salah satunya adalah tidak membaca buku.” Begitu amat besarnya kerugian akibat tidak membaca buku sehingga Joseph pun bahkan menggolongkan orang yang tidak membaca buku sebagai penjahat.
Selain itu, wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad adalah iqra’ yang artinya membaca. Mengapa sampai firman Allah yang pertama ini berisi perintah kepada Nabi Muhammad untuk membaca? Sebab dengan membaca, akan muncul sebuah kekuatan yang sangat luar biasa.
Namun saat ini budaya membaca buku itu telah hilang. Banyak hal yang menyebabkan budaya membaca buku itu telah hilang. Diantaranya mahalnya harga buku saat ini, kurangnya perpustakaan, serta tidak dibudayakannya membaca buku sejak kecil.
Saat ini kita dapat melihat sendiri, akibat mahalnya harga bahan baku kertas, maka harga pembuatan bukupun menjadi mahal. Masyarakat kita yang umumnya berekonomi menengah kebawah pada akhirnya tidak mampu membeli buku karena harganya yang mahal. Buku hanya menjadi milik orang kaya dan orang miskin tidak mampu membeli buku. Pada akhirnya, hanya sedikit dari bangsa kita yang membaca buku sehingga budaya membaca buku lambat laun menjadi hilang.
Untuk itu perlu dicari jalan keluar agar masyarakat masih dapat membaca buku. Salah satu solusi dari mahalnya harga buku itu adalah membangun perpustakaan. Pemerintah dalam hal ini diharapkan menyediakan sarana agar warga dapat memperoleh buku seperti dengan mendirikan banyak perpustakaan.
Namun ternyata pemerintah sendiri seolah tidak terlalu memperhatikan masalah perpustakaan. Perpustakaan banyak dibiarkan apa adanya dan tidak dikelola dengan baik. Bahkan tidak ada seorang pun yang berniat memajukan pustaka di negeri kita ini.
Saya menjadi teringat terhadap apa yang dikatakan Bapak Taufiq Ismail, sastrawan dan budayawan itu saat saya bertemu beliau di Padang kira-kira satu setengah tahun yang lalu. Ketika itu saya bertanya mengenai keadaan perpustakaan dan minat baca masyarakat di Indonesia. Lewat sebuah puisi yang berjudul Kupu-kupu Dalam Buku yang kurang saya hafal benar, beliau menjawab pertanyaan saya itu. Penggalan puisi itu kalau tidak salah begini:
Ketika aku berjalan melewati perpustakaan
Aku melihat banyak buku yang tertata rapi
Orang-orang sibuk meminjam buku
Dan anak-anak asyik membalikkan halaman buku
Kemudian di dalam hati aku bertanya
Di perpustakaan di negeri mana aku berada?Malu aku jadi orang Indonesia
Harga buku-buku mahal
Perpustakaan kosong penuh debu
Minat membaca telah hilang
Malu aku jadi orang Indonesia Lewat puisi di atas kita dapat melihat, beliau amat khawatir terhadap minat baca dan keadaan perpustakaan di Indonesia. Beliau juga khawatir terhadap mahalnya harga buku. Bahkan karena itulah beliau malu menjadi orang Indonesia. Beliau amat merindukan sebuah perpustakaan yang dipenuhi oleh orang-orang yang datang membaca buku.
Saya menjadi iri melihat negara-negara maju yang banyak memiliki perpustakaan. Ayah saya pernah menceritakan, di Amerika Serikat hampir di setiap kota, di setiap sekolah, universitas, bahkan di setiap rumah terdapat perpustakaan. Bayangkan dengan negeri kita. Jangankan ada pustaka di setiap rumah, buku-buku pun bahkan hanya sedikit yang ada. Itu pun kebanyakan bukan buku ilmu pengetahuan, tapi lebih bersifat hiburan.
Perpustakaan memang harus menjadi perhatian utama pemerintah saat ini. Lihatlah dua bangsa besar yang kokoh dan tangguh yang telah membuktikan bahwa peran pustaka dalam membantu meraih kemajuan bangsa amat besar.
Bangsa-bangsa itu adalah bangsa Mesir dan Irak. Karena perhatian pemerintah mereka yang besar dalam hal perpustakaan, mereka dapat menjadi bangsa yang besar dan maju. Bahkan mereka menjadi kuat dan kokoh serta mampu terhindar dari upaya penjajahan negara lain karena masyarakatnya rajin ke perpustakaan.
Lihatlah bangsa Mesir. Dengan membangun perpustakaan terbesar di dunia saat itu yang bernama pustaka Alexandria, bangsa Mesir dapat menjadi bangsa yang maju. Bahkan mereka dapat pula menanggulangi serangan-serangan dari bangsa Romawi yang berusaha menjajahnya. Pemerintah di sana juga berusaha menjadikan pustaka tersebut sebagai pusat budaya dan ilmu pengetahuan dunia.
Namun, setelah bangsa Romawi tahu jika pustaka menjadi penyebab kuatnya bangsa Mesir, Raja Romawi Julius Cesar segera memerintahkan pasukannya membakar pustaka Alexandria. Pasukan Mesir yang melihat hal itu bukannya menyerang bangsa Romawi itu dan membunuh Julius Cesar, justru mereka berusaha agar pustaka itu tidak habis terbakar. Namun akhirnya bangsa Mesir dapat ditaklukkan oleh bangsa Romawi karena perpustakaan Alexandria habis terbakar. Di sini kita dapat melihat, bangsa Mesir yang mencintai perpustakaan dapat menjadi bangsa yang maju. Bahkan bangsa Mesir lebih menghargai pustaka dengan buku-bukunya daripada kepala Raja Julius Cesar yang menyerang itu.
Selain itu lihat pula pemerintahan Dinasti Abbasiyah di Irak yang berjaya di abad ke-14. Pemerintahan yang berpusat di Baghdad itu memiliki pustaka besar yang memiliki banyak koleksi buku yang tak ternilai harganya. Di pustaka itu tersimpan segala macam buku mengenai pemikiran-pemikiran ilmuwan dunia saat itu. Pustaka di sana amat dilindungi karena menjadi rahasia kemajuan bangsa Irak saat itu. Alhasil, ketika pasukan Mongol berusaha menjajah Irak, mereka selalu gagal akibat mereka tidak tahu apa yang menjadi rahasia kemajuan bangsa Irak.
Tapi, belajar dari pengalaman bangsa Romawi, bangsa Mongol pun membakar pustaka besar di Baghdad. Sejak saat itu Dinasti Abbasiyah mengalami kemunduran dan pasukan Mongol berhasil menguasai Irak.
Pemerintah seharusnya bisa mengambil pelajaran dari sejarah kedua negeri itu untuk memajukan bangsa kita ini. Pemerintah harusnya mengupayakan terbentuknya sebuah perpustakaan besar yang lengkap, nyaman, dan memenuhi keinginan masyarakat. Selain itu pemerintah juga diharapkan membangun perpustakaan hingga ke daerah terpencil sehingga masyarakat di daerah terpencil dapat pula membaca buku. Dengan dipenuhinya kriteria ini, akan banyak masyarakat yang mau membaca buku dan tidak khawatir lagi akan mahalnya harga buku.
Selain masalah mahalnya harga buku dan jarangnya perpustakaan, pembudayaan untuk membaca buku sejak dini pun tidak ada. Kita tidak dibiasakan membaca buku sejak kecil sehingga kita tidak terbiasa membaca buku dan menjadi malas membaca buku.
Lihatlah negara-negara lain. Mereka sejak kecil telah dibiasakan membaca buku dengan memberikan sejumlah buku yang menjadi bacaan wajib. Di Amerika Serikat misalnya, siswa Sekolah Menengah Umum diwajibkan paling sedikit membaca 55 judul buku. Begitu pula di Jepang, Belanda, Perancis dan negara lainnya. Mereka begitu peduli pada kegiatan membaca buku sebab mereka tahu, membaca buku banyak manfaatnya. Mungkin karena itulah mereka menjadi bangsa yang maju. Sedangkan di Indonesia, satupun tidak ada buku yang wajib dibaca oleh siswa sehingga kita tidak pernah berangkat dari ketertinggalan ini.
Bahkan, karena tidak adanya buku yang wajib dibaca ini, sebuah hasil studi dari Vincent Greanary pada tahun 1998 melukiskan, minat baca siswa di Indonesia terletak di urutan paling akhir setelah Filipina, Thailand, dan Singapura. Ini menunjukkan betapa parahnya kemampuan membaca siswa Indonesia.
Pemerintah melalui jalur pendidikan diharapkan membuat aturan wajib membaca buku bagi siswa. Selain melalui jalur pendidikan, siswa juga harus dibiasakan banyak membaca buku agar wawasan dan pengetahuan semakin bertambah. Siswa juga hendaknya dibiasakan banyak berkunjung ke pustaka guna menambah wawasan dan pengetahuan.
Kita perlu belajar dari Buya Hamka dan Bung Hatta yang pintar karena banyak membaca buku. Bung Hatta malah memiliki pustaka pribadi dan mempunyai banyak koleksi buku. Di dalam biografinya, Bung Hatta menceritakan bahwa sejak kecil beliau banyak membaca buku. Beliau juga selalu membeli buku setiap bepergian ke suatu tempat. Bahkan beliau lebih banyak mengeluarkan uang untuk membeli buku dibandingkan untuk hal yang lain. Buya Hamka juga suka membaca buku. Bahkan karena banyak membaca dan belajar dengan buku, walaupun ia tidak pernah sekolah, ia berhasil meraih gelar profesor. Suatu hal yang sangat luar biasa yang jarang terjadi saat ini.
Dari para tokoh itu, seharusnya kita belajar dan berusaha agar kita dapat menjadi tokoh-tokoh yang rajin membaca buku itu untuk memajukan bangsa ini. Dengan adanya kebiasaan membaca buku ini, Indonesia pasti dapat keluar dari berbagai krisis yang mendera seperti krisis ekonomi, krisis sosial, krisis percaya diri, dan berbagai macam krisis lainnya.
Ada beberapa cara agar masyarakat membudayakan membaca buku. Misalnya membiasakan diri minimal satu judul buku terbaca dalam sebulan.
Jika kebiasaan membaca buku itu mulai kita pupuk dari sekarang, ada harapan, cepat atau lambat bangsa Indonesia bergerak ke arah “menjadi” negara yang maju. Mungkin, apabila kebiasaan membaca ini dapat dilanjutkan, pada tahun 2020 nanti, apa yang kita cita-citakan dapat kita raih dengan mudah. Perekonomian tumbuh pesat. Ilmu pengetahuan bertambah maju. Masyarakat baik kaya maupun miskin ramai memadati perpustakaan. Orang-orang mudah mendapatkan buku-buku yang berkualitas. Setiap anak mengisi waktu luangnya dengan membaca buku dan setiap rumah memiliki perpustakaan keluarga.
Dengan demikian, jika bapak Taufiq Ismail bertanya lagi, di perpustakaan di negara manakah ia berada, kita menjawab, “Ya disini, di Indonesia.”
Jadi perlu memupuk kebiasaan membaca. Jika kita banyak membaca buku, kita banyak mendapat informasi. Jika kita banyak mendapat informasi, kita pasti menjadi bangsa yang maju dan menguasai dunia. Kita sebagai anak bangsa harus optimis terhadap hal ini. Kita harus optimis, membaca buku dapat mengantarkan kita pada kemajuan, kejayaan, kebesaran, dan kemakmuran seperti yang dikatakan Ali bin Abi Thalib, “Berbahagialah orang-orang yang disekitarnya dikelilingi buku.”
Pemerintah diharapkan mampu membangun perpustakaan yang memadai agar masyarakat dapat membaca buku tanpa harus membelinya dengan harga mahal. Pemerintah hendaknya memulai langkah ini dari sekarang juga dan mengubah bangsa ini dari bangsa yang malas membaca buku menjadi bangsa yang suka membaca buku jika ingin melihat Indonesia yang cerdas dan sejahtera. Karena itu, memulai rajin berkunjung ke perpustakaan demi memajukan Indonesia tercinta ini, adalah langkah bijak!
(Tulisan ini merupakan Juara II Tingkat Nasional Dalam Lomba Menulis Esai Nasional Tahun 2007)
Banggalah Berbahasa Indonesia
Bahasa Indonesia telah menjadi bagian panjang dari sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia. Sejak ditetapkan menjadi bahasa persatuan dan bahasa resmi negara pada tanggal 28 Oktober 1928, bahasa Indonesia mempunyai peranan yang besar terhadap bangsa Indonesia, baik di masa penjajahan, masa kemerdekaan, maupun masa sekarang. Bahasa Indonesia mampu menyatukan bangsa Indonesia dan membuat bangsa Indonesia sejajar dengan bangsa-bangsa lainnya. Peran bahasa Indonesia amat besar di zaman penjajahan. Bahasa Indonesia lah yang mampu mempersatukan seluruh daerah di Indonesia sehingga timbul kedasaran nasional yang membuat bangsa Indonesia mampu mengusir penjajah dan merdeka. Semangat nasionalisme yang tinggi pada saat itu membuat perkembangan bahasa Indonesia sangat pesat karena semua orang ingin menunjukkan jati dirinya sebagai bangsa Indonesia. Pada awalnya banyak pihak meragukan akan kemampuan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Keraguan ini telah muncul sejak tahun 1930. Pada saat itu muncul berbagai polemik apakah bahasa Indonesia mampu menjadi bahasa dalam pergaulan dan dipakai dalam berbagai bidang ilmu. Namun semangat rakyat akan keinginan untuk bersatu dan merdeka membuat banyak istilah ilmu pengetahuan lahir. Hal ini terungkap dalam Kongres Bahasa Indonesia pada tahun 1938 di Solo. Dalam pertemuan tersebut, semangat anti Belanda sangat kental sehingga melahirkan berbagai istilah ilmu pengetahuan dalam bahasa Indonesia. Istilah belah ketupat, jajaran genjang, merupakan istilah dalam bidang geometri yang lahir dari pertemuan tersebut. Ketika penjajah Jepang datang ke nusantara, kedudukan bahasa Indonesia dalam mempersatukan bangsa Indonesia semakin kuat sehingga penjajah Jepang mampu diusir dari Indonesia dan hasilnya Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Pada tahun 1953, Kamus Bahasa Indonesia muncul untuk pertama kalinya yang disusun oleh Poerwodarminta. Di kamus tersebut tercatat jumlah lema (kata) dalam bahasa Indonesia mencapai 23.000 kata. Pada tahun 1976, Pusat Bahasa menerbitkan Kamus Bahasa Indonesia, dan terdapat penambahan 1.000 kata baru. Artinya, dalam waktu 23 tahun hanya terdapat 1.000 penambahan kata baru. Namun, selain mengalami penambahan kata, ejaan bahasa Indonesia terus disempurnakan dan pada tahun 1972 terjadi penyempurnaan ejaan bahasa Indonesia yang pertama. Bahasa Indonesia terus berkembang. Pada tahun 1988, terjadi loncatan yang luar bisa dalam Bahasa Indonesia. Dari 23.000 kata, telah berkembang menjadi 62.000 pada tahun 1988. Selain itu, setelah bekerja sama dengan Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei, berhasil dibuat 340.000 istilah baru di berbagai bidang ilmu. Malahan sampai hari ini, Pusat Bahasa berhasil menambah kira-kira 250.000 kata baru. Dengan demikian, sudah ada 590.000 kata di berbagai bidang ilmu. Sementara kata umum telah berjumlah 78.000. Dalam perkembangan Bahasa Indonesia, pernah terjadi suatu kejadian menarik. Pada tahun 1980-an ketika terjadi peledakan ekonomi secara luar biasa, saat produk asing berupa properti masuk ke perkantoran dan pusat perbelanjaan, banyak istilah asing masuk ke Indonesia. Istilah asing marak digunakan sehingga pemerintah menjadi khawatir. Pada tahun 1995 terjadi pencanangan berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Nama-nama gedung, perumahan dan pusat perbelanjaan yang berbau asing diganti dengan nama yang berbahasa Indonesia. Namun hal ini tidak berlangsung lama. Bahasa Indonesia kembali mendapat tantangan yang berat. Angin reformasi yang muncul sejak tahun 1998 justru membawa perubahan buruk bagi bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa asing kembali marak dan bahasa Indonesia sempat terpinggirkan. Malahan dengan alasan globalisasi, percampuran bahasa Indonesia dengan bahasa asing justru semakin marak. Kata-kata seperti “new arrival”, “sale”, “best buy”, “discount”, terpampang dengan jelas di berbagai toko dan pusat perbelanjaan. Media pun ikut mempengaruhi penggunaan bahasa Indonesia yang salah. Malahan tak sedikit media yang memberikan judul acara dengan kata-kata dalam bahasa asing. Selain itu dikalangan pelajar dan remaja sendiri lahir sebuah bahasa baru yang merupakan pencampuran antara bahasa asing, bahasa Indonesia, dan bahasa daerah. Bahasa tersebut biasa disebut dengan bahasa gaul. Saat ini penggunaan bahasa Indonesia baik oleh masyarakat umum, maupun pelajar mengalami maju-mundur. Perkembangan teknologi saat ini membuat penyebaran bahasa Indonesia hingga ke pelosok daerah semakin mudah dan berkembang pesat. Bahasa Indonesia semakin dikenal masyarakat. Jika pada awalnya masyarakat Indonesia yang terdiri dari multisuku, multietnis, multiras, dan multiagama susah bergaul antara sesama karena terdapat perbedaan bahasa, kini dengan adanya bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia, semua elemen bangsa dapat berkomunikasi dengan yang lainnya. Ini merupakan salah satu bentuk kemajuan dalam bahasa Indonesia. Selain mengalami kemajuan, bahasa Indonesia juga memiliki kemunduran. Akibat pengaruh globalisasi dan pengaruh besar dari negara – negara besar seperti Amerika Serikat, bahasa Indonesia menjadi terpinggirkan. Bahkan dari kalangan masyarakat dan pelajar di Indonesia sendiri. Banyak yang menganggap sepele bahasa Indonesia dan lebih mementingkan bahasa lain seperti bahasa Inggris, bahasa Spanyol, bahasa Arab, bahasa Perancis, bahasa Jerman, bahasa Mandarin dan bahasa lainnya. Pelajar dan para pemuda juga menganggap sepele bahasa Indonesia. Kebanyakan dari mereka mengganggap bahasa Indonesia terlalu kaku, tidak bebas dan terasa kurang akrab. Mereka lebih menyukai bahasa baru yang dikenal dengan bahasa gaul yang merupakan campuran dari bahasa daerah, bahasa asing, dan bahasa Indonesia. Keadaan ini berbalik 180 derajat dari keadaan 78 tahun yang lalu, di saat para pelajar dan pemuda dengan semangat cinta tanah air menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Bukan bahasa lainnya seperti Bahasa Belanda ataupun bahasa daerah. Alhasil, akibat pelajar menganggap sepele pelajaran bahasa Indonesia, banyak dari pelajar itu sendiri mendapatkan nilai yang rendah dalam pelajaran bahasa Indonesia. Parahnya lagi, sebagian penyebab banyaknya pelajar yang tidak lulus Ujian Nasional adalah karena mengganggap sepele pelajaran bahasa Indonesia. Banyak faktor yang menyebabkan masyarakat Indonesia itu menganggap remeh pelajaran bahasa Indonesia. Pertama, karena masyarakat Indonesia merasa tidak perlu lagi belajar bahasa Indonesia karena mereka sudah berbangsa dan bisa berbahasa Indonesia seadanya. Padahal sebenarnya belum tentu mereka bisa dan mampu berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Kedua, karena adanya kemunduran dan kemerosotan ekonomi Indonesia sejak beberapa tahun terakhir sehingga timbul rasa malu berbahasa Indonesia di kalangan masyarakat Indonesia dalam pergaulan internasional. Ketiga, sebagai akibat adanya globalisasi yang membuat timbulnya pengaruh terhadap penggunaan bahasa Indonesia dikalangan masyarakat Indonesia. Lalu bagaimana keadaan bahasa Indonesia di masa mendatang? Semakin parahnya penggunaan bahasa Indonesia saat ini membuat masa depan bahasa Indonesia tidak jelas. Untuk itu perlu dibuat sebuah peraturan khusus yang mengatur masalah penggunaan bahasa. Peraturan itu akan membuat bahasa Indonesia terpelihara dari segi pemakaian. Namun jangan dibayangkan peraturan itu akan menangkap orang yang tidak bicara dengan benar, tetapi lebih luas. Misalnya dalam acara kenegaraan diatur harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kemudian dalam penggunaan di ruang publik, seperti televisi dan media masa, harus menggunakan bahasa Indonesia. Dengan sendirinya bahasa Indonesia dapat lebih membudaya di kalangan masyarakat Indonesia itu sendiri di masa mendatang. Selain itu, untuk menghadapi tuntutan dan tantangan perkembangan kehidupan sosial dan budaya, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kehidupan berbangsa dalam era globalisasi, dan teknologi informasi masa kini serta masa yang akan datang, bahasa Indonesia perlu ditingkatkan mutunya dan dikembangkan kemampuan daya ungkapnya sehingga buku tata bahasa dan kamus serta berbagai pedoman penggunaan bahasa menjadi andal untuk lebih memberdayakan sumber daya manusia Indonesia. Di samping itu, sesuai dengan tuntutan reformasi, penutur bahasa Indonesia, para pejabat, dan tokoh panutan masyarakar perlu dibina sedemikian rupa sehingga perilaku bahasanya lebih baik, benar, demokratis, dan lugas sehingga dapat ditiru dan diteladani oleh masyarakat. Apabila bisa, perlu juga diberi penghargaan terhadap para tokoh yang menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar seperti yang dilakukan Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional bersama tujuh organisasi media massa pada tahun 2003 yang lalu. Pada saat itu tokoh yang dianggap berbahasa dengan baik seperti Yusril Ihza Mahendra, Eep Saefulloh Fatah, Nurcholish Madjid, Pradjoto, Richard Gozney, dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang saat itu menjabat Menko Polkam diberi penghargaan karena telah memberikan teladan dalam berbahasa Indonesia yang baik kepada masyarakat. Kesadaran berbahasa merupakan modal penting dan harus tumbuh dalam setiap pribadi masyarakat dalam mewujudkan sikan berbahasa yang positif yang selanjutnya akan memperkukuh fungsi bahasa Indonesia sebagai lambang jati diri bangsa. Penggunaan bahasa Indonesia, baik sebagai bahasa persatuan maupun sebagai bahasa negara, perlu pula dibina lebih lanjut untuk menghadapi tantangan makin meluasnya penggunaan bahasa asing, terutama bahasa Inggris di Indonesia dan di dalam pergaulan internasional. Di samping itu, pembinaan penutur bahasa Indonesia hendaknya diarahkan sedemikian rupa sehingga bahasa Indonesia dapat berfungsi sebagai sarana untuk memanifestasikan nilai – nilai luhur budaya bangsa.
Di dalam bidang pendidikan pemerintah juga harus memperhatikan kepentingan bahasa Indonesia dengan baik untuk pendidikan. Kurikulum yang dibuat pemerintah hendaknya dapat mementingkan bahasa Indonesia dalam pendidikan sehingga pelajar tidak lagi menganggap remeh bahasa Indonesia. Apabila perlu kita dapat mencontoh negara lain seperti Perancis yang mempunyai sebuah peraturan untuk melindungi bahasanya agar tetap digunakan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari – hari. Apabila di masa depannya bahasa Indonesia mendapat posisi penting di mata dunia, maka tidak mungkin jika bahasa Indonesia yang bersaudara dengan bahasa Melayu menjadi salah satu bahasa resmi dunia. Untuk itu pengajaran bahasa Indonesia untuk penutur asing perlu dikembangkan secara terencana dan terarah sehingga bahasa dan budaya Indonesia lebih dikenal di pentas dunia internasional. Salah satu upaya yang perlu segera di laksanakan untuk rnencapai tujuan tersebut ialah program penerjemahan dan pengenalan Bahasa Indonesia dalam skala besar dan diimplementasikan dengan sungguh-sungguh, terutama dalam kaitannya dengan alih teknologi. Bangsa Indonesia harus bangga terhadap bahasa Indonesia sebab bahasa Indonesia merupakan bahasa keempat terbanyak dipakai setelah bahasa Mandarin, Inggris, dan Spanyol. Bahasa Indonesia memiliki keindahan yang tidak jauh kalahnya dengan bahasa – bahasa lainnya di dunia. Bahasa Indonesia memiliki sejarah yang jauh lebih panjang daripada sejarah Republik Indonesia itu sendiri. Bahasa Indonesia muncul karena tekad pemuda yang kuat dalam mempersatukan bangsa. Berbanggalah berbangsa dan berbahasa Indonesia!






1 komentar